20.43
Pedati
Pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev, gemar sekali bercerita tentang kisah pencuri yang cerdik ini.
Ada sebuah pabrik pengolahan kayu di Leningrad yang dijaga dengan ketat oleh petugas keamanan. Pada suatu sore. Pyotr Petrovich keluar dari pabrik itu sambil membawa pedati yang sarat dengan tumpukan karung. Wajahnya terlihat mencurigakan.
“Apa yang kamu bawa Petrovich,”tanya penjaga denga muka sangar.
“Hanya serbuk gergaji, kok" jawab Petrovich dengan suara bergetar.
“Ayolah, aku kan bukan anak kemarin sore. Buat apa-apa kamu mau bersusah-susah keluar malam ini kalau cuma mengangkut serbuk gergaji," gertak penjaga. Penjaga lalu memeriksa isi karung itu. Ternyata semuanya memang hanya berisi serbuk gergaji. Karena tidak ada yang mencurigakan, akhirnya penjaga membuarkan Petrovich berlalu.
Petrovich mnelakukan ini selama seminggu. Sang penjaga sangat yakin kalau Petrovich itu menyelendupkan sesuatu keluar dari pabrik, tetapi dia tidak bisa menemukan bukti yang mencurigakan di atas pedati itu. Mereka hampir frustasi.
“Petrovich,” kata penjaga ketika memeriksa untuk kesekian kali, “Saya kenal kamu dengan baik. Saya tahu sebenarnya kamu mencuri sesuatu dari pabrik ini. Tolong katakan apa yang kamu curi dan saya janji tidak akan menangkap kamu."
“Pedati, sobat, “ kata Petrovich, “saya mencuri pedati.”
Dari: The Devil’s Gauntlet, Os Guiness
Humor
Pedati
Pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev, gemar sekali bercerita tentang kisah pencuri yang cerdik ini.
Ada sebuah pabrik pengolahan kayu di Leningrad yang dijaga dengan ketat oleh petugas keamanan. Pada suatu sore. Pyotr Petrovich keluar dari pabrik itu sambil membawa pedati yang sarat dengan tumpukan karung. Wajahnya terlihat mencurigakan.
“Apa yang kamu bawa Petrovich,”tanya penjaga denga muka sangar.
“Hanya serbuk gergaji, kok" jawab Petrovich dengan suara bergetar.
“Ayolah, aku kan bukan anak kemarin sore. Buat apa-apa kamu mau bersusah-susah keluar malam ini kalau cuma mengangkut serbuk gergaji," gertak penjaga. Penjaga lalu memeriksa isi karung itu. Ternyata semuanya memang hanya berisi serbuk gergaji. Karena tidak ada yang mencurigakan, akhirnya penjaga membuarkan Petrovich berlalu.
Petrovich mnelakukan ini selama seminggu. Sang penjaga sangat yakin kalau Petrovich itu menyelendupkan sesuatu keluar dari pabrik, tetapi dia tidak bisa menemukan bukti yang mencurigakan di atas pedati itu. Mereka hampir frustasi.
“Petrovich,” kata penjaga ketika memeriksa untuk kesekian kali, “Saya kenal kamu dengan baik. Saya tahu sebenarnya kamu mencuri sesuatu dari pabrik ini. Tolong katakan apa yang kamu curi dan saya janji tidak akan menangkap kamu."
“Pedati, sobat, “ kata Petrovich, “saya mencuri pedati.”
Dari: The Devil’s Gauntlet, Os Guiness
Label:
Santai
20.41
Belajar dari Etos Bangsa Cina
Judul Buku: The Chinese Ethos
Penulis:
Jansen Sinamo, Eben Ezer Siadari
Penerbit:
Institut Darma Mahardika
Tahun terbit
: 2013
Tebal: 382
halaman
Peresensi:
Sylvana Toemon
Cina telah menunjukkan kekuatannya di Asia, bahkan di
dunia. Kekuatan ekonomi dunia mulai bergeser dari barat ke timur.
Lembaga-lembaga keuangan papan atas yang kolaps dan krisis di zona Euro,
membuat kedudukan Cina makin kokoh secara politik dan ekonomi. Cina, yang
berpuluh tahun lalu dikenal karena penduduknya yang kebanyakan miskin, berhasil
mengangkat harkat bangsanya dengan mengentaskan ratusan juta penduduknya dari
kemiskinan.
Kebangkitan Cina di kancah dunia saat ini tak terlepas
dari reformasi Deng Xiaoping pada tahun 1978. Masa ini dibagi menjadi 2 tahap
yang sangat berpengaruh pada pembangunan Cina, yaitu tahap awal dibuka untuk
investasi asing, kemudian dilanjutkan dengan privatisasi besar-besaran untuk
aneka industri dalam negeri. Sektor swasta berkembang pesat.
Yang membuat Cina berbeda dengan negara lain adalah
tetap kuatnya peranan negara, dan terus menguat, dalam memimpin dan
mengendalikan reformasi negeri itu. Negara terus menunjukkan kehadirannya dalam
setiap kegiatan, sementara di negara lain, pemerintahnya justru kehilangan kendali.
Kemajuan Cina ini tak hanya berakar pada reformasi
Deng Xiaoping, namun berakar jauh ke ribuan tahun silam dalam sejarah panjang
Bangsa Cina. Peradaban Cina telah mempengaruhi dunia. Bahkan, Nabi Muhammad SAW
pernah bersabda, “Carilah ilmu sampai ke Negeri Cina.”
Cina dengan peradabannya yang membentang sangat
panjang, dikenal juga dengan tradisi revolusioner yang mewarnai perjalanan
sejarahnya. Tradisi mandat langit sebagai legitimasi bagi setiap kaisar, juga
diartikan sebagai sesuatu yang tidak permanen
pada setiap kaisar. Artinya, penguasa bisa kehilangan kekuasaannya bila rakyat
menganggap penguasa tak layak memegang mandat itu. Maka terjadilah pergantian
dinasti yang memerintah Cina, yang diawali dengan revolusi.
Selain
pergantian penguasa dengan revolusi, sejarah panjang Cina juga diwarnai dengan
guru-guru bijaksana yang ajarannya turut mempengaruhi kehidupan bangsa Cina.
Konfusius, Lao Zi dan Siddharta Gautama, masing-masing memberi pengaruhnya
tersendiri. Di kemudian hari, ajaran-ajaran mereka banyak yang berasimilasi
membentuk cara hidup dan etos bangsa Cina.
Jansen Sinamo, sang guru etos, yang telah menulis
buku 8 Etos Kerja Profesional menerjemahkan etos bangsa Cina dalam 8 bingkai
etos tersebut. Etos adalah pandangan hidup yang khas pada suatu golongan sosial
atau bangsa. Namun, etos bukan hanya semangat atau keyakinan yang khas, Etos
lebih dilihat pada wujud positifnya dalam bentuk perilaku individual dan
komunal.
Etos
kerja orang Cina ini terbawa pada semua keturunannya di seluruh dunia. Bangsa
Cina tak lagi hanya berkewarganegaraan Cina. Mereka bermigrasi ke berbagai
daerah, termasuk juga ke Indonesia. Anggapan bahwa bangsa Cina semuanya pedagang adalah keliru. Ini tampaknya sangat dipengaruhi oleh dunia
bisnis yang menjadi lapangan kerja utama etnik Cina di Indonesia. Yang benar,
bangsa Cina adalah pekerja keras. Hal ini tidak hanya terjadi pada orang kaya
yang menolak pensiun dari bisnisnya, tapi juga warga
paling miskin yang berjuang untuk sesuap nasi.
Melalui
buku ini, kita dapat mempelajari sejarah dan budaya Cina, sekaligus juga etos
hidupnya. Etos yang menjadi “rahasia” keberhasilan etnis Cina di banyak bidang,
di seluruh dunia. “Rahasia” ini dijelaskan oleh penulis dengan contoh dan
ilustrasi dengan bahasa yang mudah dimengerti. Buku ini juga memiliki
keterkaitan yang saling melengkapi dengan buku 8 Etos Kerja Profesional yang
juga ditulis oleh Jansen Sinamo. Buku ini sangat layak dibaca untuk menambah
wawasan dan menjadi referensi bagi etos kita sendiri. {ST}
Label:
Artikel
20.39
TIDAK APA-APA
Oleh: Pdt.
Guruh JS
Merasa diri “tidak apa-apa” di
satu sisi memang baik, namun jika tidak waspada bisa berakibat fatal. Seperti
halnya jika kepala kita terbentur, mungkin bisa saja kita merasa tidak apa-apa. Namun kita tidak pernah
menyangka bahwa akibat dari benturan itu bisa saja fatal, bukan? Demikian juga
dalam dunia bisnis, kadang ada pebisnis yang berpikir “tidak apa-apa” hanya
kecil dan sedikit tidak berpengaruh. Namun jika sikap ‘tidak apa-apa” itu terus
dipelihara dan tetap dilakukan bisa saja mengakibatkan kehancuran.
Ayah seorang anggota jemaat
GKI Kwitang, mengalami kecelakaan motor di jalan raya Solo –
Wonogiri. Dalam perjalanannya
mengunjungi saudara yang merayakan Idul Fitri, sepeda motor pria berusia lebih
dari 70 tahun itu tersenggol kendaraan besar. Ia terjatuh dan terluka di siku
dan lutut sehingga tawaran para penolong untuk membawanya ke RS ditolak. Ia
merasa tidak apa-apa. Beberapa hari kemudian terdengar kabar wafatnya sang ayah
karena pendarahan otak akibat benturan keras. Ternyata, perasaan “tidak
apa-apa” yang dialaminya dalam
kecelakaan itu berakibat fatal.
Dalam Yosua 7, dikisahkan
kekalahan orang Israel ketika menghadapi pasukan kota Ai – kota yang
jauh lebih kecil dibandingkan Yerikho. Kekalahan tersebut tidak terduga dan (mungkin juga) memalukan,
mengingat beberapa saat sebelumnya Israel dengan pertolongan Tuhan mampu
mengalahkan Yerikho dengan cara spektakuler (Yos. 6). Rupanya kekalahan Israel
dari Ai itu disebabkan ada orang Israel yang mencuri dari barang-barang yang
dikhusukan untuk Tuhan, dengan jelas Tuhan mengatakan, “Orang Israel telah berbuat dosa, mereka melanggar perjanjian-Ku yang
Kuperintahkan kepada mereka, mereka mengambil sesuatu dari barang-barang yang
dikhususkan itu, mereka mencurinya, mereka menyembunyikannya, dan mereka
menaruhnya di antara barang-barangnya”(Yos. 7:11).
Setelah dilakukan investigasi,
didapatlah Akhan si pencuri barang-barang
itu (Yos. 7:18). Alasan Akhan, “..aku melihat di antara barang-barang
jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan
sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil;
semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah
sekali” (Yos. 7:21). Kata “aku” dalam ayat tersebut menunjukkan keegosian Akhan untuk “memperkaya diri sendiri” dan“demi memuaskan dirinya sendiri”. Mungkin,
Akhan berpikir apa yang diambilnya itu hanya sedikit jadi tidak apa-apa. Namun
apa yang dipikirnya tidak apa-apa itu dampaknya sangat besar, yaitu kemarahan Allah
yang menyebabkan kekalahan Israel saat melawan Ai dan juga kehancuran
keluarganya.
Banyak orang berpikir “ah, hanya sedikit tidak apa-apa!” tanpa berpikir
panjang
dampak dari perbuatan yang hanya untuk mementingkan diri sendiri. Meski banyak pebisnis Kristen yang baik dan
jujur, namun kita tidak dapat menutup mata bahwa ada juga pebisnis Kristen yang
melakukan kecurangan. Bahkan kecurangan itu dianggap “tidak apa-apa, itu kan sudah biasa” atau “tidak apa-apa hanya
sedikit”. Tindakan-tindakan yang muncul bisa bervariasi mulai dari manipulasi data, “uang tip” yang besar dan lain-lain. Akibat yang ditimbulkan dari
“kebiasaan” tidak baik ini ternyata
berpengaruh terhadap kehidupan bangsa ini secara luas dan yang pasti
kemarahan Tuhan.
Akhan akhirnya mengakui perbuatannya, namun semuanya terlambat. Perbuatannya
telah membawa kehancuran diri dan keluarganya bahkan menghapuskan nama-nama mereka dari daftar
orang Israel. Persitiwa Akhan menjadi sebuah cermin bagi kita agar kita senantiasa menjaga kekudusan dan
sikap hidup yang baik. Jangan karena kita berpikir “tidak apa-apa” lantas kita
kehilangan kewaspadaan sehingga mengakibatkan kehancuran yang lebih besar lagi.
Mari kita meningkatkan kualitas hidup untuk melakukan segala hal dengan
lebih baik lagi. Apa yang
kita lakukan bukan sekadar demi
keuntungan, kepentingan dan kepuasan diri sendiri yang sifatnya sesaat saja.
Apa yang kita lakukan dapat menjadi
berkat bagi banyak orang di sekitar
kita. Bukan menerima atau mendapat
melainkan memberi.
Selamat berjuang untuk menjadi berkat. Tuhan memberkati. Amin.
Rensa – Jakarta Timur
Label:
Renungan
20.23
Laba
Oleh: Dr. Phil Eka Darmaputra
Persoalan yang terus-menerus ditanyakan orang adalah: berapa banyak
orang dapat memetik laba atau keuntungan? Apakah ada ukuran-ukran etis yang
pasti untuk menentukannya?
Mitos yang umum berlaku adalah, bahwa di dalam dunia bisnis adalah
wajar bila orang berusaha untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Menurut
Adam Smith, ini adalah suatu naluri alamiah yang tidak dapat dan tidak perlu
ditekan. Tidak dapat ditekan, oleh karena akan sia-sia belaka. Dan tidak perlu
ditekan, oleh karena hukum-hukum eknomi itu sendiri yang secara alamiah akan
mengaturnya.
Misalnya, hukum penawaran dan permintaan. Apabila penawaran jauh lebih
besar daripada permintaan, maka dengan sendirinya harga akan turun dan
keuntungan pun semakin kecil. Sebaliknya, apabila kebutuhan akan suatu barang
jauh melebihi barang yang tersedia, maka dengan sendirinya harga akan melonjak
dan keuntungan yang diperolah akan berlipat-ganda. Jadi, menurut teori ini,
masalah keuntungan itu tidak mempunyai dimensi etis. Mekanisme yang ada di
dalam ekonomi itu sendiri yang akan mengaturnya. Pengendalian tingkat laba yang
dapat diperoleh dapat dilakukan secara teknis dan dengan cara yang amat
sededhana. Sediakan saja barang yang dibutuhkan sebanyak-banyaknya.
Tapi benarkah masalahnya begitu sederhana? Ternyata tidak. Pada satu
pihak, saya memang setuju bahwa hukum penawaran dan permintaan itu tidak dapat
dihindarkan. Bagaimana pun kita berusaha mengendalikannya, ia akan tetap berlaku. Akan
tetapi adalah mitos belaka bila orang beranggapan semuanya akan berjalan secara
alamiah. Sebab hukum penawaran dan permintaan itu dapat dimanipulasikan dengan
mudahnya.
Adalah praktik yang umum berlaku di dalam dunia bisnis, bila harga
cenderung turun maka produsen pun akan
mengurangi produksinya. Tidak jarang dengan cara-cara yang tidak
bermoral. Misalnya, kita pernah membaca di suratkabar, bagaimana sejumlah besar
susu dibuang begitu saja sekadar untuk menahan laju kemerosotan harga.
Oleh karena itu, fokus perhatian dalam membahas laba bukanlah bagaimana
cara mendapatkan keuntungan yang seminimal-minimalnya, dan juga dengan
serta-merta menolak keuntungan yang semaksimal-maksimalnya, melainkan masalah
batas-batas memperoleh keuntungan yang optimal
di dalam batas yang wajar. Optimal,
oleh karena sama sekali tidak realistislah menuntut orang berusaha
sekeras-kerasnya dan sebaik-baiknya hanya untuk memperoleh keuntungan
seminimal-minimalnya. Suatu etika yang tidak realistis tidak mungkin akan
berfungsi. Ia hanya akan tinggal sebagai norma yang tidak pernah dilaksanakan
di dalam praktik. Dan sebagai akibatnya, ekonomi dan bisnis pun akan berjalan
menurut mekanisme sendiri tanpa nilai-nilai etis. Tapi kali ini disebabkan oleh
karena kesalahan etika sendiri. Hal itu karena etika tidak memperhitungkan
realitas kehidupan ekonomi yang mau diaturnya.
Masalah yang amat rumit adalah untuk menjawab pertanyaan: apakah ada
batas-batas yang pasti dari keuntungan yang “wajar” itu?
Jawaban atas pertanyaan itu adalah “ada” dan “tidak ada.” Dijawab “ada”
karena kita dapat mengatakan bahwa ada keuntungan yang “tidak wajar.”Tetapi
juga “tidak ada” oleh karena penentuan mengenai laba dan harga itu tergantung
dari begitu banyak faktor dan variabel.
Di dalam hal-hal tertentu, kita malah dapat mengatakan bahwa faktor-faktor
dan variabel itu bergitu subjektifnya sehingga tidak ada ukuran untuk
mengatakan, apakah harga yang ditetapkan itu wajar atau tidak wajar. Saya
sebutkan saja sebagai contoh, suatu lukisan yang dihargai puluhan juta rupiah.
Apa ukuran yang dapat kita pakai untuk mengatakan bahwa harga itu wajar atau
tidak? Bila ukuran yang dipakai adalah biaya yang telah dikeluarkan oleh si
pelukis untuk menghasilkan lukisan tersebut, maka mungkin biaya yang
dikeluarkan hanya 100-200 ribu rupiah. Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan
lukisan itu bisa berbulan-bulan, tetapi dapat juga hanya sehari. Masalahnya
adalah bagaimana kita dapat menetukan “harga” suatu kreativitas? Suatu nilai
keindahan? Belum lagi faktor tingkat popularitas pelukis dan selera pembeli.
Hal yang sama dapat kita katakan mengenai harga lelang benda antik atau
berlian. Di dalam hal ini seolah-olah “kewajaran” harga sepenuhnya ditentukan
oleh kesepakatan penjual dan pembeli tanpa ukuran-ukuran yang pasti dan
objektif.
Martin Luther sendiri mengatakan, bahwa harga suatu barang itu
ditentukan oleh begitu banyak faktor yang tidak pasti. Pada intinya, ia
mengatakan bahwa harga suatu barang itu ditentukan oleh “biaya” yang telah
dikeluarkan oleh si penjual ditambah dengan “keuntungan wajar” yang menjadi hak
si penjual. Di dalam faktor “biaya” itu, Luther tidak hanya memperhitungkan
“uang” yang telah dikeluarkan oleh si penjual untuk memperoleh barang tersebut,
tetapi juga faktor tenaga, waktu dan....tingkat kesulitan. “Keuntungan yang
wajar” pun sama sekali tidak pasti. Sebab selain ia ditentukan oleh
faktor-faktor yang tidak dapat dinilai dengan pasti, ia juga hanya dapat
dibatas oleh apa yang disebut Luther sebagai “tidak adanya keserakahan untuk
hidup yang berlebihan” dari pihak di penjual.
Oleh karena semua yang tidak pasti itulah maka Luther menghendaki
kekuasaan politik mengatur masalah harga ini. Pada satu pihak, harus diatur
agar konsumen tidak dirugikan oleh penetapan harga yang sewenang-wenang dari
pihak penjual. Dan pada pihak lain, harus diatur agar penjual dijamin untuk
memperoleh keuntungan yang wajar sesuai dengan nilai barang yang bersangkutan,
tingkat kesulitan, dan faktor risiko. Dengan faktor risiko, yang dimaksudkan
ialah, misalnya kemungkinan rusaknya barang di tengah barang atau kemungkinan
tidak terjualnya semua barang, yang tentu saja menjadi tanggungan sepenuhnya
dari si penjual.
Mengingat semua ini, maka yang maksimal dapat kita katakan mengenai
“Harga atau keuntungan yang wajar” adalah sebagai berikut:
1.
Bahwa si penjual berhak untuk memperoleh keuntungan dari
usahanya. Memperoleh keuntungan bukanlah suatu dosa atau suatu kejahatan.
Sebaliknya, si pembeli mempunyai kewajiban
untuk memberikan kompensasi bagi jasa yang telah ia terima dari penjual
sehingga ia dapat memperoleh barang yang ia perlukan.
2. Dalam keuntungan yang “wajar” tidak saja dimaksudkan agar si penjual dapat memperoleh nafkah untuk kebutuhan-kebutuhan hidupnya (kebutuhan konsumtif) tetapi agar dia juga dapat mengembangkan usahanya lebih lanjut (kebutuhan produktif).
3. Yang dimaksud dengan keuntungan yang “wajar” adalah keuntungan yang “optimal” yang dapat diperoleh penjual, dengan tanpa mengeksploitasi kebutuhan pembeli. Artinya “kesempatan” pihak pembeli tidak dieksploitasi sedemikian rupa sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang berlebihan. Keuntungan yang tidak wajar ialah keuntungan yang diperoleh bukan karena jasa dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi karena memanipulasi kebutuhan masyarakat.
2. Dalam keuntungan yang “wajar” tidak saja dimaksudkan agar si penjual dapat memperoleh nafkah untuk kebutuhan-kebutuhan hidupnya (kebutuhan konsumtif) tetapi agar dia juga dapat mengembangkan usahanya lebih lanjut (kebutuhan produktif).
3. Yang dimaksud dengan keuntungan yang “wajar” adalah keuntungan yang “optimal” yang dapat diperoleh penjual, dengan tanpa mengeksploitasi kebutuhan pembeli. Artinya “kesempatan” pihak pembeli tidak dieksploitasi sedemikian rupa sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang berlebihan. Keuntungan yang tidak wajar ialah keuntungan yang diperoleh bukan karena jasa dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi karena memanipulasi kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, sebenarnya permasalahan kita bukanlah pada ada atau
tidak adanya patokan yang pasti mengenai harga, tetapi pada keputusan
etis yang harus diambil oleh si penjual secara pribadi. Ia berhak untuk
hidup layak dari keuntungan itu. Ia berhak untuk memperkembangkan usahanya dari
keuntungan itu. Ia berhak untuk memperoleh keuntungan yang seoptimal-optimalnya
dari jasanya sebagai pemasok kebutuhan masyarakat. Tetapi yang selalu harus ia
tanyakan secara pribadi iaah: Apakah keuntungan yang saya peroleh itu merugikan
dan mengorbankan orang lain? Ataukah keuntungan utu diperoleh melalui suatu
transaksi yang saling menguntungkan?
Jangan diharapkan ada ketentuan yang jelas di sini. Sebab mengharapkan
semua diatur berdasarkan ketentuan, justru akan merugikan. Bisnis tidak akan
berkembang bila segala sesuatu harus diatur dari luar. Sebab itu, pergunakanlah
kebebasan itu dengan sebertanggunghawab mungkin. Sebab bila tidak, maka itulah
yang akan terjadi: ada tangan-tangan dari luar yang akan mengatur dan memaksa.
Bagaimanapun, harga jual juga ditentukan oleh mekanisme pasar:perbandingan
antara penawaran dan permintaan. Sekiranya pada suatu ketika permintaan jauh
melebihi penawaran, maka seringkali hal ini dipakai oleh para pedagang untuk
menimba laba sebanyak-banyaknya. Menurut keyakinan saya, ini adalah sesuatu
yang wajar dan alamiah.
Di sini, apabila masyarakat dirugikan, maka pemerintah harus melakukan
sesuatu. Tetapi tidak akan ada banyak gunanya apabila pemerintah hanya kemudian
mengeluarkan perintah untuk menekan harga. Ini hanya mengakibatkan para
pedagang tidak mau menjual barangnya, dan justru akan mengakibatkan penawaran
semakin mengecil dibandingkan dengan permintaan.
Pemerintah dapat melakukan upaya menekan harga dengan tetap
memperhitungkan mekanisme pasar. Misalnya dengan menambah suplai barang
sehingga penawaran seimbang dengan permintaan.
Yang hendak saya katakan di sini adalah: Ada tuntutan-tunutan etis yang
harus membatasi. Namun pembatasan itu hanya akan dapat berfungsi apabila
mekanisme di dalam dunia bisnis sendiri dihormati dan diperhitungkan.
Di sinilah salah satu contoh dari apa yang telah dikemukakan
berulang-ulang sebelumnya, bahwa etika tidak hanya menuntut keputusan
individual, tetapi juga mengatur struktural sedemikian rupa sehingga keputusan
indvidu itu dapat dilaksanakan dengan baik.
Dikutip dari buku:
Etika Sederhana untuk Semua; Bisnis, Ekonomi dan Penatalayanan, ditulis oleh
Dr. Phil. Eka Darmaputra, diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia
Label:
Artikel
20.35
Menyulap Sampah Plastik Jadi Uang
Saat
ini ada uang tercecer di sungai dan di tempat sampah tapi tidak ada yang
memungutnya. Masa’ sih? Di mana itu? Perhatikan
sungai-sungai dan selokan di perkotaan. Di antara sampah yang menyumbat saluran
air itu banyak terdapat sampak plastik, mulai dari tas plastik, botol bekas
minuman, botol minyak, botol minuman hingga plastik sisa konstruksi. Sampah-sampah plastik itu dapat disulap
menjadi uang.
Langkah
pertama adalah mengumpulkan bahan bakunya. Anda bisa mengerahkan orang-orang di
sekitar Anda untuk menyetor limbah plastik. Biasanya setiap 1 kg sampah plastik
dihargai sekitar Rp. 6.000,- /kg. Sampah plastik yang sudah terkumpul
dipilah-pilah berdasarkan jenis plastik. Ada bermacam-macam jenis plastik:
1. PET(Polyethylene) – Botol air mineral.
2. HDPE(High Density Polyethylene)-botol oli, kemasan bekas kosmetik, tas plastik.
3. PVC
(Polyvinyl Chloride)- pipa, bahan-bahan konstruksi, talang air, ember.
4. LDP
(Low Density Polyethylene) - tutup
botol air mineral/gallon, mainan
anak-anak.
5. PP
(Poly Propylene)-gelas aqua, peralatan makan.
6. PS
(Polystyrene)-Styrofoam.
7. HIPC
(High Impact Plastik Cover)-perangkat
elektronik.
Yang perlu
diperhatikan, untuk satu kemasan plastik bisa terdiri dari bermacam-macam
plastik. Contohnya untuk wadah minuman air mineral:
Botolnya berjenis PET,
labelnya berjenis PP,
tutupnya berjenis HDPE, dan segelnya berjenis PVC. Untuk itu, kita harus memisah-misahkannya menurut
jenisnya. Untuk pengolahan
limbah plastik, saya
mengusulkan agar Anda memulainya dengan mengolah botol dan gelas bekas air mineral dulu. Setelah mahir, maka Anda bisa melanjutkan dengan
jenis-jenis plastik yang lain.
Platik yang sudah
dipilih dan dipilah ini kemudian dibersihkan. Misalnya membersihkan dari
kotoran, membuang mereknya, dan memangkas bagian-bagian yang keras seperti tutup
botol, bibir gelas plastik, bagian dasar dll). Untuk itu pekerja perlu diberi pelatihan lebih dahulu.
Plastik yang sudah
bersih ini kemudian digelontorkan ke mesin pencacah (crusher
machine). Hasilnya adalah
potongan-potongan plastik seukuran sisik ikan (Kira-kira sebesar kuku tangan
manusia dewasa). Sisik plastik ini lalu dicuci lagi dengan
biang deterjen
melalui bak-bak
pencucian. Setelah kering,
“sisik-sisik” ikan ini dikemas dan dikirim untuk didaur ulang. Harga jual sisik
iklan plastik ini mencapai Rp.10.000,-/kg untuk plastik dari gelas dan untuk bahan dari botol
dihargai Rp.8.000,- /kg. Catatan: harga ini berlaku saat tulisan ini dibuat. Harganya bisa
berubah sewaktu-waktu
Biaya
Produksi
Transport Rp.1.000/kg.
Ongkos produksi
diperkirakan Rp.1.000/kg.
Bahan baku gelas bekas (sudah
bersih) Rp.6.000 /kg,
Laba kotor diperkirakan
untuk bahan baku gelas plastik bekas Rp.2.000/kg.
Investasi yang
diperlukan:
1.Sebidang tanah +/- 1.000m2
= Rp.1.000.000.000,-
2.Bangunan:Workshop
(sederhana)+Kantor+gudang 500
m2x Rp.1.000.000,-= Rp. 500.000.000,-
3.Mesin Crusher : Kapasitas 800 kg/jam harganya USD 2.750
x Rp.9.500,-= Rp.26.125.000,-
4.Bak-bak Fiber: 4 buah x 500 liter = Rp.10.000.000,-
5.Pompa-pompa = Rp.
1.000.000,
5.Mesin pengering (dryer) = Rp. 60.000.000,-
6.Truk pengangkut = Rp.100.000.000,-
Total:
Rp. 1. 697.125.000,-
Biaya Bahan Baku
Untuk
bahan baku, Anda harus menyediakan dana lukuid untuk membeli bahan baku
kira-kira selama seminggu sebelum tagihan Anda dibayar.
Jika
mesin Anda berkapasitas 500kg/jam maka dalam satu hari kerja (8
jam) Anda membutuhkan bahan baku
sebesar 500 kg x 8 jam x Rp.6.000,- =-=Rp.24.000.000,-hari. Untuk seminggu, Anda perlu menyediakan modal sebesar Rp.24.000.000.- x 6 hari =Rp.144.000.000,-
Jadi biaya investasi total yang diperlukan adalah Rp.1.841.125.000,-
(Daniel
Santoso)
Label:
Peluang Usaha
07.31
Nilai-nilai dalam Bisnis
John D. Beckett
Arah bisnis
ditetapkan bukan hanya oleh visi yang jelas tetapi juga oleh sekumpulan
nilai-nilai dasar. Jika dipikirkan baik-baik dan dikomunikasikan dengan
efektif, nilai-nilai itu merupakan alat yang tepat untuk memusatkan energi
sebuah organisasi. Nilai-nilai itu akan menjadi pedoman yang mengarahkan
perusahaan menuju pada pencapaian visi.
Pertanyaan
kunci yang dihadapi setiap orang dalam bisnis adalah “nilai-nilai apakah itu?”
Banyak orang mencari jawabannya.
Saya rasa
nilai-nilai ini perlu berakar pada Alkitab. Selain itu, perumusan nilai-nilai
itu juga haruslah sederhana, mudah dipahami dan mudah diingat sehingga kita dapat menyebarluaskannya
melalui pendidikan dan latihan.
Integritas
Definisi integritas adalah ketaatan pada sebuah
standar nilai. Sesuatu yang dapat diandalkan dan utuh biasanya dapat dikatakan
memiliki integritas. “Sesuatu” itu bisa berupa struktur, filosofi, atau
seseorang. Kebalikan dari integritas adalah hal-hal yang dapat dikompromikan, yang
tidak utuh, yang tidak sehat. Dalam Alkitab, istilah integritas ini mencakup
tentang kebenaran, kejujuran, ketulusan, ketidakbersalahan, keutuhan.
Mazmur 15
menggambarkan tentang orang-orang yang berintegitas. Kualitas karakter yang
dominan dari orang-orang yang berintegritas adalah: yang berlaku tidak bercela,
yang melakukan apa yang adil, dan yang mengatakan kebenaran dengan sepenuh
hatinya—yang berpegang pada sumpah walaupun rugi (ayat 9). Secara sederhana
saya membayangkan seseorang yang setuju menjual sebuah benda miliknya hanya
dengan berjabat tangan sebagai tanda atas harga tertentu. Hari berikutnya ada
orang lain yang menawarkan lebih banyak uang untuk membeli benda tersebut.
Orang yang berintegritas pasti akan menghormati komitmen sebelumnya, walaupun
orang yang datang belakangan dapat memberi keuntungan yang lebih besar
kepadanya.
Dari
pengalaman saya, integritas seorang pelaku bisnis diuji dari waktu ke waktu.
Kami pernah menghadappi tantangan seperti di awal karier saya dengan pelanggan
dari Jepang. Agen pembelian dari perusahaan itu meminta kami membayar sejumlah
“komisi” ke rekening pribadinya atas penjualan produk kami kepada perusahaan
tersebut. Menurut kami, hal itu merupakan tindakan penyuapan, tapi dari
pengalaman itu kami kemudian tahu bahwa tindakan penyuapan seperti itu sudah
umum terjadi di Asia. Menanggapi itu kami memutuskan untuk taat kepada
standar-standar etika kami dan menolak pembayaran “komisi” dengan kesadaran
bahwa hal itu dapat merugikan bisnis kami. Untungnya, hal itu tidak benar-benar
terjadi. Ketika kami menolak untuk membayar agen itu, ia justru berkata,”Bagus.
Saya hanya berpura-pura memintanya.”
Bayangkan
betapa besar pengaruh integritas dalam
mengubah citra buruk yang menodai bisnis modern. Mungkin pada masa yang akan
datang perjanjian bisnis cukup dilakukan dengan berjabat tangan menggantikan
sistem kontrak yang berbelit-beli. Tidak akan ada berita tentang skandal bisnis
dan korupsi. Nilai-nilai mutlak yang telah teruji oleh waktu akan menggantikan
relativisme moral yang telah mengakibatkan begitu banyak kebingungan tentang
bagaimana kita harus berpikir dan bertindak. Dengan integritas , para karyawan tidak akan
terjebak dalam dilema tentang kapan mereka bisa berbohong dan kapan tidak
boleh.
Excellence
Seperti
integritas, excellence adalah konsep
yang juga berakar pada Alkitab. Dalam suatu seminar kecil yang kami adakan
bersama 60 manajer dalam perusahaan kami, saya menugaskan mereka untuk melihat
betapa sempurnanya bukti-bukti yang terdapat dalam halaman-halaman awal
Alkitab, yakni pasal pertama kitab Kejadian. Setiap orang dalam kelompok ini menemukan tujuh kali Allah
mempertimbangkan berbagai aspek dari semua yang telah diciptakan-Nya – dan
melihat bahwa semua itu baik. Pada kenyataannya, pada hari terakhir Allah melihat
bahwa segala sesuatu yang telah diciptakan-Ny dan berkata bahwa semua itu
sungguh sangat baik. Itulah yang
disebut hasil terbaik!
Inilah yang
terpenting. Segala sesuatu yang telah diciptakan Allah merupakan hasil yang excellence!
Sementara
kitab Kejadian melukiskan gambaran awal tentang natur Allah, kitab-kitab lain sesudah Kejadian juga tidak dapat
menyembunyikan kekaguman dan ketakjuban akan Allah yang tak terlukiskan. Dia
bersemayam di alam yang tak terselami oleh imajinasi manusia—alam yang sepenuhnya murni, bebas dari kecemaran
dan dosa, tersusun dengan sempurna, dan sangat indah.
Keadaan excellence ini yang melukiskan natur dan kerajaan tempat Dia bersemayam
berintegrasi dengan dunia tempat kita hidup. Iniah yang sebenarnya dimaksud
Yesus ketika mengajar para murid-Nya untuk berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu, di bumi seperti di surga.”
Apapun yang
menyandang tanda kerajaan Allah, pastilah excellence.
Kita memang tidak akan pernah menyamai kesempurnaan surgawi, tetapi bila kita bersekutu dengan dengan duta
Kristus dengan duta Allah bagi dunia, yakni Yesus Kristus, maka paling tidak
kita akan mendekati kondisi tersebut. “Jika engkau makan atau jika engkau
minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu
untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Inilah panggilan untuk menjadi excellence.
Michael J.
Fox, aktor film yang berbakat, mengungkapkan suatu perbedaan yang nyata:”Saya
berhati-hati agar tidak bingung membedakan antara excellence dengan kesempurnaan. Saya dapat mengusahakan excellence, tetapi kesempurnaan adalah
urusan Allah.”
Suatu cara
yang telah kami coba untuk mendukung konsep excellence
ini adalah dengan mengusahakan “perbaikan yang terus-menerus” dalam hal yang
kami lakukan di perusahaan. Ini berlawanan dengan dengan konsep, “Jika sesuatu
belum rusak, jangan diperbaiki.” Perbaikan yang
terus-menerus akan berkata, “sekalipun sesuatu belum rusak, carilah cara
untuk menjadikannya lebih baik.”
Baru-baru
ini tim yang mengecat produk kami menerima tantangan seperti di atas setelah
melakukan hal-hal yang sama dari tahun ke tahun. Para teknisi mengembangkan
sebuah sistem yang meningkatkan produktivitas hingga lebih dari 40 persen.
Sekarang mereka kembali bergumul dengan tantangan itu, yakni untuk mencari cara
meningkatkan kualitas cat dan mengurangi polusi ke atmosfir. Kami yakin di masa
mendatang mereka akan menemukan sejumlah gagasan baru lagi.
Excellence. Pada dasarnya, excellence tidak ditentujan oleh produk
atau proses, melainkan oleh orang-orang yang mengerjakannya.
Yesus sang Tukang Kayu
Pernahkah
Anda memikirkan bagaimana Yesus memulai karir profesional-Nya? Dahulu Dia
adalah usahawan kecil, seorang tukang kayu. Bayangkan sejenak kondisi Yesus
sebagai tukang kayu, bukan sebagai pemimpin agama. Saya mempunyai lukisan arang
beraliran kontemporer tentang Yesus, sang tukang kayu. Saat ini lukisan
tersebut menghiasi bagian atas meja tulis kantor saya. Gambar itu melukiskan
Yesus sedang memegang sekotak peralatan pengetam kayu dengan tangan-Nya yang
kasar dan kuat, mata-Nya tampak puas memandangi pekerjaan yang sedang
dilakukan-Nya. Manakala memandang lukisan itu, saya berpikir betapa luarbiasa
kualitas pekerjaan sang tukang kayu itu. Sekalipun dibuat hanya dengan
peralatan yang sederhana pada waktu itu.
Terkadang
saya membayangkan saat Dia memberi sentuhan akhir pada sebuah lemari yang
dibuat-Nya untuk seorang janda tua, yang tinggal di ujung jalan tempat toko-Nya
yang sederhana berada. Dia akan mengantarkan lemari itu siang ini. Saat Dia
datang, janda itu mengundang-Nya masuk untuk berbincang-bincang, dan wanita itu
sungguh terpesona akan pengetahuan dan sikap-Nya yang halus;. Dia bukan tukang
kayu biasa, pikir janda itu, ketika Yesus kembali kepada kegiatan-Nya yang lain.
Lalu janda
itu mendekati lemarinya. Lemarinya dengan potongan yang sempurna ini
benar-benar dihargai mahal, demikian ia menyimpulkan. Karena matanya sudah agak
kabur, ia meneliti lemari itu dengan hati-hati, mengelus benda itu dari
belakang ke depan, dari atas ke bawah. Tampaknya karya ini sungguh sangat baik.
Sambungan-sambungannya, ketepatan ukurannya, juga polesannya, semua begitu
halus. Ia tidak sabar lagi utuk memperlihatkanlemari itu kepada tetangganya. Ia
menyimpulkan, “Hasil kerja tukang kayu ini benar-benar sangat baik.”
Yesus
selalu memberikan yang excellence—segala
hasil karya-Nya saat berada di bumi semata-mata merupakan cerminan dari
ketekunan-Nya, karakter-Nya yang tak bercela, natur-Nya, hidup-Nya, dan
misi-Nya.
John D. Beckett adalah pimpinan puncak R.W. Beckett Corporation di
Elyria, Ohio. Ini adalah perusahaan terbesar di dunia yang membuat pemanas
minyak. Ia juga pendiri Advent Industries
yang membuat pelatihan kerja bagi orang-orang yang sulit mendapatkan pekerjaan
karena latar belakang mereka yang buruk. Dikutip dari buku “Loving Monday”
terbitan Yayasan Gloria.
Label:
Artikel














