Headlines News :

Humor


Humor



Pedati

Pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev, gemar sekali bercerita tentang kisah pencuri yang cerdik ini.

Ada sebuah pabrik pengolahan kayu di Leningrad yang dijaga dengan ketat oleh petugas keamanan. Pada suatu sore. Pyotr Petrovich keluar dari pabrik itu sambil membawa pedati yang sarat dengan tumpukan karung. Wajahnya terlihat mencurigakan.

“Apa yang kamu bawa Petrovich,”tanya penjaga denga muka sangar.

“Hanya serbuk gergaji, kok" jawab Petrovich dengan suara bergetar.

“Ayolah, aku kan bukan anak kemarin sore. Buat apa-apa kamu mau bersusah-susah keluar malam ini kalau cuma mengangkut serbuk gergaji," gertak penjaga. Penjaga lalu memeriksa isi karung itu. Ternyata semuanya memang hanya berisi serbuk gergaji. Karena tidak ada yang mencurigakan, akhirnya penjaga membuarkan Petrovich berlalu.

Petrovich mnelakukan ini selama seminggu. Sang penjaga sangat yakin kalau Petrovich itu menyelendupkan sesuatu keluar dari pabrik, tetapi dia tidak bisa menemukan bukti yang mencurigakan di atas pedati itu. Mereka hampir frustasi.

“Petrovich,” kata penjaga ketika memeriksa untuk kesekian kali, “Saya kenal kamu dengan baik. Saya tahu sebenarnya kamu mencuri sesuatu dari pabrik ini. Tolong katakan apa yang kamu curi dan saya janji tidak akan menangkap kamu."

“Pedati, sobat, “ kata Petrovich, “saya mencuri pedati.”

Dari: The Devil’s Gauntlet, Os Guiness


Belajar dari Etos Bangsa Cina





Judul Buku: The Chinese Ethos
Penulis: Jansen Sinamo, Eben Ezer Siadari
Penerbit: Institut Darma Mahardika
Tahun terbit : 2013
Tebal: 382 halaman
Peresensi: Sylvana Toemon 

Cina telah menunjukkan kekuatannya di Asia, bahkan di dunia. Kekuatan ekonomi dunia mulai bergeser dari barat ke timur. Lembaga-lembaga keuangan papan atas yang kolaps dan krisis di zona Euro, membuat kedudukan Cina makin kokoh secara politik dan ekonomi. Cina, yang berpuluh tahun lalu dikenal karena penduduknya yang kebanyakan miskin, berhasil mengangkat harkat bangsanya dengan mengentaskan ratusan juta penduduknya dari kemiskinan.
Kebangkitan Cina di kancah dunia saat ini tak terlepas dari reformasi Deng Xiaoping pada tahun 1978. Masa ini dibagi menjadi 2 tahap yang sangat berpengaruh pada pembangunan Cina, yaitu tahap awal dibuka untuk investasi asing, kemudian dilanjutkan dengan privatisasi besar-besaran untuk aneka industri dalam negeri. Sektor swasta berkembang pesat.
Yang membuat Cina berbeda dengan negara lain adalah tetap kuatnya peranan negara, dan terus menguat, dalam memimpin dan mengendalikan reformasi negeri itu. Negara terus menunjukkan kehadirannya dalam setiap kegiatan, sementara di negara lain, pemerintahnya justru kehilangan kendali.
Kemajuan Cina ini tak hanya berakar pada reformasi Deng Xiaoping, namun berakar jauh ke ribuan tahun silam dalam sejarah panjang Bangsa Cina. Peradaban Cina telah mempengaruhi dunia. Bahkan, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Carilah ilmu sampai ke Negeri Cina.”
Cina dengan peradabannya yang membentang sangat panjang, dikenal juga dengan tradisi revolusioner yang mewarnai perjalanan sejarahnya. Tradisi mandat langit sebagai legitimasi bagi setiap kaisar, juga diartikan sebagai sesuatu yang tidak permanen pada setiap kaisar. Artinya, penguasa bisa kehilangan kekuasaannya bila rakyat menganggap penguasa tak layak memegang mandat itu. Maka terjadilah pergantian dinasti yang memerintah Cina, yang diawali dengan revolusi.
Selain pergantian penguasa dengan revolusi, sejarah panjang Cina juga diwarnai dengan guru-guru bijaksana yang ajarannya turut mempengaruhi kehidupan bangsa Cina. Konfusius, Lao Zi dan Siddharta Gautama, masing-masing memberi pengaruhnya tersendiri. Di kemudian hari, ajaran-ajaran mereka banyak yang berasimilasi membentuk cara hidup dan etos bangsa Cina.
Jansen Sinamo, sang guru etos, yang telah menulis buku 8 Etos Kerja Profesional menerjemahkan etos bangsa Cina dalam 8 bingkai etos tersebut. Etos adalah pandangan hidup yang khas pada suatu golongan sosial atau bangsa. Namun, etos bukan hanya semangat atau keyakinan yang khas, Etos lebih dilihat pada wujud positifnya dalam bentuk perilaku individual dan komunal.
Etos kerja orang Cina ini terbawa pada semua keturunannya di seluruh dunia. Bangsa Cina tak lagi hanya berkewarganegaraan Cina. Mereka bermigrasi ke berbagai daerah, termasuk juga ke Indonesia. Anggapan bahwa bangsa Cina semuanya pedagang adalah keliru. Ini tampaknya sangat dipengaruhi oleh dunia bisnis yang menjadi lapangan kerja utama etnik Cina di Indonesia. Yang benar, bangsa Cina adalah pekerja keras. Hal ini tidak hanya terjadi pada orang kaya yang menolak pensiun dari bisnisnya, tapi juga warga paling miskin yang berjuang untuk sesuap nasi.
Melalui buku ini, kita dapat mempelajari sejarah dan budaya Cina, sekaligus juga etos hidupnya. Etos yang menjadi “rahasia” keberhasilan etnis Cina di banyak bidang, di seluruh dunia. “Rahasia” ini dijelaskan oleh penulis dengan contoh dan ilustrasi dengan bahasa yang mudah dimengerti. Buku ini juga memiliki keterkaitan yang saling melengkapi dengan buku 8 Etos Kerja Profesional yang juga ditulis oleh Jansen Sinamo. Buku ini sangat layak dibaca untuk menambah wawasan dan menjadi referensi bagi etos kita sendiri. {ST}

TIDAK APA-APA


Oleh: Pdt. Guruh JS


Merasa diri “tidak apa-apa” di satu sisi memang baik, namun jika tidak waspada bisa berakibat fatal. Seperti halnya jika kepala kita terbentur, mungkin bisa saja kita merasa tidak apa-apa. Namun kita tidak pernah menyangka bahwa akibat dari benturan itu bisa saja fatal, bukan? Demikian juga dalam dunia bisnis, kadang ada pebisnis yang berpikir “tidak apa-apa” hanya kecil dan sedikit tidak berpengaruh. Namun jika sikap ‘tidak apa-apa” itu terus dipelihara dan tetap dilakukan bisa saja mengakibatkan kehancuran.

Ayah seorang anggota jemaat GKI Kwitang,  mengalami kecelakaan motor di jalan raya Solo – Wonogiri. Dalam perjalanannya mengunjungi saudara yang merayakan Idul Fitri, sepeda motor pria berusia lebih dari 70 tahun itu tersenggol kendaraan besar. Ia terjatuh dan terluka di siku dan lutut sehingga tawaran para penolong untuk membawanya ke RS ditolak. Ia merasa tidak apa-apa. Beberapa hari kemudian terdengar kabar wafatnya sang ayah karena pendarahan otak akibat benturan keras. Ternyata, perasaan “tidak apa-apa” yang  dialaminya dalam kecelakaan itu berakibat fatal.

Dalam Yosua 7, dikisahkan  kekalahan orang Israel ketika menghadapi pasukan kota Ai – kota yang jauh lebih kecil dibandingkan Yerikho. Kekalahan tersebut  tidak terduga dan (mungkin juga) memalukan, mengingat beberapa saat sebelumnya Israel dengan pertolongan Tuhan mampu mengalahkan Yerikho dengan cara spektakuler (Yos. 6). Rupanya kekalahan Israel dari Ai itu disebabkan ada orang Israel yang mencuri dari barang-barang yang dikhusukan untuk Tuhan, dengan jelas Tuhan mengatakan, “Orang Israel telah berbuat dosa, mereka melanggar perjanjian-Ku yang Kuperintahkan kepada mereka, mereka mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu, mereka mencurinya, mereka menyembunyikannya, dan mereka menaruhnya di antara barang-barangnya”(Yos. 7:11).


Setelah dilakukan investigasi, didapatlah Akhan si pencuri barang-barang itu (Yos. 7:18). Alasan Akhan, “..aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali (Yos. 7:21). Kata “aku” dalam ayat tersebut menunjukkan keegosian Akhan untuk “memperkaya diri sendiri” dan“demi memuaskan dirinya sendiri”. Mungkin, Akhan berpikir apa yang diambilnya itu hanya sedikit jadi tidak apa-apa. Namun apa yang dipikirnya tidak apa-apa itu dampaknya sangat besar, yaitu kemarahan Allah yang menyebabkan kekalahan Israel saat melawan Ai dan juga kehancuran keluarganya.

Banyak orang berpikir “ah, hanya sedikit tidak apa-apa!” tanpa berpikir panjang dampak dari perbuatan yang hanya untuk mementingkan diri sendiri. Meski banyak pebisnis Kristen yang baik dan jujur, namun kita tidak dapat menutup mata bahwa ada juga pebisnis Kristen yang melakukan kecurangan. Bahkan kecurangan itu dianggap “tidak apa-apa, itu kan sudah biasa” atau “tidak apa-apa hanya sedikit”. Tindakan-tindakan yang muncul bisa bervariasi mulai dari manipulasi data, “uang tip” yang besar  dan lain-lain. Akibat yang ditimbulkan dari “kebiasaan” tidak baik ini ternyata  berpengaruh terhadap kehidupan bangsa ini secara luas dan yang pasti kemarahan Tuhan.

Akhan akhirnya mengakui perbuatannya, namun semuanya terlambat. Perbuatannya telah membawa kehancuran diri dan keluarganya bahkan menghapuskan nama-nama mereka dari daftar orang Israel. Persitiwa Akhan menjadi sebuah cermin bagi kita agar kita senantiasa menjaga kekudusan dan sikap hidup yang baik. Jangan karena kita berpikir “tidak apa-apa” lantas kita kehilangan kewaspadaan sehingga mengakibatkan kehancuran yang lebih besar lagi.

Mari kita meningkatkan kualitas hidup untuk melakukan segala hal dengan lebih baik lagi. Apa yang kita lakukan bukan sekadar demi keuntungan, kepentingan dan kepuasan diri sendiri yang sifatnya sesaat saja. Apa yang kita lakukan dapat menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita. Bukan menerima atau mendapat melainkan memberi.

Selamat berjuang untuk menjadi berkat. Tuhan memberkati. Amin.


Rensa – Jakarta Timur

Laba


Oleh: Dr. Phil Eka Darmaputra
Persoalan yang terus-menerus ditanyakan orang adalah: berapa banyak orang dapat memetik laba atau keuntungan? Apakah ada ukuran-ukran etis yang pasti untuk menentukannya?
Mitos yang umum berlaku adalah, bahwa di dalam dunia bisnis adalah wajar bila orang berusaha untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Menurut Adam Smith, ini adalah suatu naluri alamiah yang tidak dapat dan tidak perlu ditekan. Tidak dapat ditekan, oleh karena akan sia-sia belaka. Dan tidak perlu ditekan, oleh karena hukum-hukum eknomi itu sendiri yang secara alamiah akan mengaturnya.
Misalnya, hukum penawaran dan permintaan. Apabila penawaran jauh lebih besar daripada permintaan, maka dengan sendirinya harga akan turun dan keuntungan pun semakin kecil. Sebaliknya, apabila kebutuhan akan suatu barang jauh melebihi barang yang tersedia, maka dengan sendirinya harga akan melonjak dan keuntungan yang diperolah akan berlipat-ganda. Jadi, menurut teori ini, masalah keuntungan itu tidak mempunyai dimensi etis. Mekanisme yang ada di dalam ekonomi itu sendiri yang akan mengaturnya. Pengendalian tingkat laba yang dapat diperoleh dapat dilakukan secara teknis dan dengan cara yang amat sededhana. Sediakan saja barang yang dibutuhkan sebanyak-banyaknya.
Tapi benarkah masalahnya begitu sederhana? Ternyata tidak. Pada satu pihak, saya memang setuju bahwa hukum penawaran dan permintaan itu tidak dapat dihindarkan. Bagaimana pun kita berusaha  mengendalikannya, ia akan tetap berlaku. Akan tetapi adalah mitos belaka bila orang beranggapan semuanya akan berjalan secara alamiah. Sebab hukum penawaran dan permintaan itu dapat dimanipulasikan dengan mudahnya.
Adalah praktik yang umum berlaku di dalam dunia bisnis, bila harga cenderung turun maka produsen pun akan  mengurangi produksinya. Tidak jarang dengan cara-cara yang tidak bermoral. Misalnya, kita pernah membaca di suratkabar, bagaimana sejumlah besar susu dibuang begitu saja sekadar untuk menahan laju kemerosotan harga.
Oleh karena itu, fokus perhatian dalam membahas laba bukanlah bagaimana cara mendapatkan keuntungan yang seminimal-minimalnya, dan juga dengan serta-merta menolak keuntungan yang semaksimal-maksimalnya, melainkan masalah batas-batas memperoleh keuntungan yang optimal di dalam batas yang wajar. Optimal, oleh karena sama sekali tidak realistislah menuntut orang berusaha sekeras-kerasnya dan sebaik-baiknya hanya untuk memperoleh keuntungan seminimal-minimalnya. Suatu etika yang tidak realistis tidak mungkin akan berfungsi. Ia hanya akan tinggal sebagai norma yang tidak pernah dilaksanakan di dalam praktik. Dan sebagai akibatnya, ekonomi dan bisnis pun akan berjalan menurut mekanisme sendiri tanpa nilai-nilai etis. Tapi kali ini disebabkan oleh karena kesalahan etika sendiri. Hal itu karena etika tidak memperhitungkan realitas kehidupan ekonomi yang mau diaturnya.
Masalah yang amat rumit adalah untuk menjawab pertanyaan: apakah ada batas-batas yang pasti dari keuntungan yang “wajar” itu?
Jawaban atas pertanyaan itu adalah “ada” dan “tidak ada.” Dijawab “ada” karena kita dapat mengatakan bahwa ada keuntungan yang “tidak wajar.”Tetapi juga “tidak ada” oleh karena penentuan mengenai laba dan harga itu tergantung dari begitu banyak faktor dan variabel.
Di dalam hal-hal tertentu, kita malah dapat mengatakan bahwa faktor-faktor dan variabel itu bergitu subjektifnya sehingga tidak ada ukuran untuk mengatakan, apakah harga yang ditetapkan itu wajar atau tidak wajar. Saya sebutkan saja sebagai contoh, suatu lukisan yang dihargai puluhan juta rupiah. Apa ukuran yang dapat kita pakai untuk mengatakan bahwa harga itu wajar atau tidak? Bila ukuran yang dipakai adalah biaya yang telah dikeluarkan oleh si pelukis untuk menghasilkan lukisan tersebut, maka mungkin biaya yang dikeluarkan hanya 100-200 ribu rupiah. Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan lukisan itu bisa berbulan-bulan, tetapi dapat juga hanya sehari. Masalahnya adalah bagaimana kita dapat menetukan “harga” suatu kreativitas? Suatu nilai keindahan? Belum lagi faktor tingkat popularitas pelukis dan selera pembeli.
Hal yang sama dapat kita katakan mengenai harga lelang benda antik atau berlian. Di dalam hal ini seolah-olah “kewajaran” harga sepenuhnya ditentukan oleh kesepakatan penjual dan pembeli tanpa ukuran-ukuran yang pasti dan objektif.


Martin Luther sendiri mengatakan, bahwa harga suatu barang itu ditentukan oleh begitu banyak faktor yang tidak pasti. Pada intinya, ia mengatakan bahwa harga suatu barang itu ditentukan oleh “biaya” yang telah dikeluarkan oleh si penjual ditambah dengan “keuntungan wajar” yang menjadi hak si penjual. Di dalam faktor “biaya” itu, Luther tidak hanya memperhitungkan “uang” yang telah dikeluarkan oleh si penjual untuk memperoleh barang tersebut, tetapi juga faktor tenaga, waktu dan....tingkat kesulitan. “Keuntungan yang wajar” pun sama sekali tidak pasti. Sebab selain ia ditentukan oleh faktor-faktor yang tidak dapat dinilai dengan pasti, ia juga hanya dapat dibatas oleh apa yang disebut Luther sebagai “tidak adanya keserakahan untuk hidup yang berlebihan” dari pihak di penjual.
Oleh karena semua yang tidak pasti itulah maka Luther menghendaki kekuasaan politik mengatur masalah harga ini. Pada satu pihak, harus diatur agar konsumen tidak dirugikan oleh penetapan harga yang sewenang-wenang dari pihak penjual. Dan pada pihak lain, harus diatur agar penjual dijamin untuk memperoleh keuntungan yang wajar sesuai dengan nilai barang yang bersangkutan, tingkat kesulitan, dan faktor risiko. Dengan faktor risiko, yang dimaksudkan ialah, misalnya kemungkinan rusaknya barang di tengah barang atau kemungkinan tidak terjualnya semua barang, yang tentu saja menjadi tanggungan sepenuhnya dari si penjual.
Mengingat semua ini, maka yang maksimal dapat kita katakan mengenai “Harga atau keuntungan yang wajar” adalah sebagai berikut:
1.                        Bahwa si penjual berhak untuk memperoleh keuntungan dari usahanya. Memperoleh keuntungan bukanlah suatu dosa atau suatu kejahatan. Sebaliknya, si pembeli mempunyai kewajiban untuk memberikan kompensasi bagi jasa yang telah ia terima dari penjual sehingga ia dapat memperoleh barang yang ia perlukan.
2.                        Dalam keuntungan yang “wajar” tidak saja dimaksudkan agar si penjual dapat memperoleh nafkah untuk kebutuhan-kebutuhan hidupnya (kebutuhan konsumtif) tetapi agar dia juga dapat mengembangkan usahanya lebih lanjut (kebutuhan produktif).
3.                        Yang dimaksud dengan keuntungan yang “wajar” adalah keuntungan yang “optimal” yang dapat diperoleh penjual, dengan tanpa mengeksploitasi kebutuhan pembeli. Artinya “kesempatan” pihak pembeli tidak dieksploitasi sedemikian rupa sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang berlebihan. Keuntungan yang tidak wajar ialah keuntungan yang diperoleh bukan karena jasa dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi karena memanipulasi kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, sebenarnya permasalahan kita bukanlah pada ada atau tidak adanya patokan yang pasti mengenai harga, tetapi pada keputusan etis yang harus diambil oleh si penjual secara pribadi. Ia berhak untuk hidup layak dari keuntungan itu. Ia berhak untuk memperkembangkan usahanya dari keuntungan itu. Ia berhak untuk memperoleh keuntungan yang seoptimal-optimalnya dari jasanya sebagai pemasok kebutuhan masyarakat. Tetapi yang selalu harus ia tanyakan secara pribadi iaah: Apakah keuntungan yang saya peroleh itu merugikan dan mengorbankan orang lain? Ataukah keuntungan utu diperoleh melalui suatu transaksi yang saling menguntungkan?
Jangan diharapkan ada ketentuan yang jelas di sini. Sebab mengharapkan semua diatur berdasarkan ketentuan, justru akan merugikan. Bisnis tidak akan berkembang bila segala sesuatu harus diatur dari luar. Sebab itu, pergunakanlah kebebasan itu dengan sebertanggunghawab mungkin. Sebab bila tidak, maka itulah yang akan terjadi: ada tangan-tangan dari luar yang akan mengatur dan memaksa.
Bagaimanapun, harga jual juga ditentukan oleh mekanisme pasar:perbandingan antara penawaran dan permintaan. Sekiranya pada suatu ketika permintaan jauh melebihi penawaran, maka seringkali hal ini dipakai oleh para pedagang untuk menimba laba sebanyak-banyaknya. Menurut keyakinan saya, ini adalah sesuatu yang wajar dan alamiah.
Di sini, apabila masyarakat dirugikan, maka pemerintah harus melakukan sesuatu. Tetapi tidak akan ada banyak gunanya apabila pemerintah hanya kemudian mengeluarkan perintah untuk menekan harga. Ini hanya mengakibatkan para pedagang tidak mau menjual barangnya, dan justru akan mengakibatkan penawaran semakin mengecil dibandingkan dengan permintaan.
Pemerintah dapat melakukan upaya menekan harga dengan tetap memperhitungkan mekanisme pasar. Misalnya dengan menambah suplai barang sehingga penawaran seimbang dengan permintaan.
Yang hendak saya katakan di sini adalah: Ada tuntutan-tunutan etis yang harus membatasi. Namun pembatasan itu hanya akan dapat berfungsi apabila mekanisme di dalam dunia bisnis sendiri dihormati dan diperhitungkan.
Di sinilah salah satu contoh dari apa yang telah dikemukakan berulang-ulang sebelumnya, bahwa etika tidak hanya menuntut keputusan individual, tetapi juga mengatur struktural sedemikian rupa sehingga keputusan indvidu itu dapat dilaksanakan dengan baik.

Dikutip dari buku: Etika Sederhana untuk Semua; Bisnis, Ekonomi dan Penatalayanan, ditulis oleh Dr. Phil. Eka Darmaputra, diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia

Menyulap Sampah Plastik Jadi Uang




Saat ini ada uang tercecer di sungai dan di tempat sampah tapi tidak ada yang memungutnya. Masa’ sih? Di mana itu? Perhatikan sungai-sungai dan selokan di perkotaan. Di antara sampah yang menyumbat saluran air itu banyak terdapat sampak plastik, mulai dari tas plastik, botol bekas minuman, botol minyak, botol minuman hingga plastik sisa konstruksi.  Sampah-sampah plastik itu dapat disulap menjadi uang.
Langkah pertama adalah mengumpulkan bahan bakunya. Anda bisa mengerahkan orang-orang di sekitar Anda untuk menyetor limbah plastik. Biasanya setiap 1 kg sampah plastik dihargai sekitar Rp. 6.000,- /kg. Sampah plastik yang sudah terkumpul dipilah-pilah berdasarkan jenis plastik. Ada bermacam-macam jenis plastik:
1. PET(Polyethylene) – Botol air mineral.
2. HDPE(High Density Polyethylene)-botol oli, kemasan bekas kosmetik, tas plastik.
3. PVC (Polyvinyl Chloride)- pipa, bahan-bahan konstruksi, talang air, ember.
4. LDP (Low Density Polyethylene) - tutup botol air mineral/gallon, mainan anak-anak.
5. PP (Poly Propylene)-gelas aqua, peralatan makan.
6. PS (Polystyrene)-Styrofoam.
7. HIPC (High Impact Plastik Cover)-perangkat elektronik.
Yang perlu diperhatikan, untuk satu kemasan plastik bisa terdiri dari bermacam-macam plastik. Contohnya untuk wadah minuman air mineral: Botolnya berjenis PET, labelnya berjenis PP, tutupnya berjenis HDPE, dan segelnya berjenis PVC. Untuk itu, kita harus memisah-misahkannya menurut jenisnya. Untuk pengolahan limbah plastik, saya mengusulkan agar Anda memulainya dengan mengolah botol dan gelas bekas air mineral dulu. Setelah mahir, maka Anda bisa melanjutkan dengan jenis-jenis plastik yang lain.


Platik yang sudah dipilih dan dipilah ini kemudian dibersihkan. Misalnya membersihkan dari kotoran, membuang mereknya, dan memangkas bagian-bagian yang keras seperti tutup botol, bibir gelas plastik, bagian dasar dll). Untuk itu pekerja perlu diberi pelatihan lebih dahulu.

Plastik yang sudah bersih ini kemudian digelontorkan ke mesin pencacah (crusher machine). Hasilnya adalah potongan-potongan plastik seukuran sisik ikan (Kira-kira sebesar kuku tangan manusia dewasa). Sisik plastik ini lalu dicuci lagi dengan biang deterjen melalui bak-bak pencucian. Setelah kering, “sisik-sisik” ikan ini dikemas dan dikirim untuk didaur ulang. Harga jual sisik iklan plastik ini mencapai Rp.10.000,-/kg untuk plastik dari gelas dan untuk bahan dari botol dihargai Rp.8.000,- /kg. Catatan: harga ini berlaku saat tulisan ini dibuat. Harganya bisa berubah sewaktu-waktu


Biaya Produksi
Transport                                                                                                             Rp.1.000/kg.
Ongkos produksi diperkirakan                                                                            Rp.1.000/kg.
Bahan baku gelas bekas (sudah bersih)                                                               Rp.6.000 /kg,
Laba kotor diperkirakan untuk bahan baku gelas plastik bekas                        Rp.2.000/kg.

Investasi yang diperlukan:
1.Sebidang tanah +/- 1.000m2 = Rp.1.000.000.000,-
2.Bangunan:Workshop (sederhana)+Kantor+gudang 500 m2x Rp.1.000.000,-= Rp.  500.000.000,-
3.Mesin Crusher : Kapasitas 800 kg/jam harganya USD 2.750 x Rp.9.500,-= Rp.26.125.000,-
4.Bak-bak Fiber: 4 buah x 500 liter = Rp.10.000.000,-
5.Pompa-pompa = Rp.  1.000.000,
5.Mesin pengering (dryer) =  Rp. 60.000.000,-
6.Truk pengangkut = Rp.100.000.000,-
Total: Rp. 1. 697.125.000,-

Biaya Bahan Baku
Untuk bahan baku, Anda harus menyediakan dana lukuid untuk membeli bahan baku kira-kira selama seminggu sebelum tagihan Anda dibayar.
Jika mesin Anda berkapasitas 500kg/jam maka dalam satu hari kerja (8 jam) Anda membutuhkan bahan baku sebesar  500 kg x 8 jam x Rp.6.000,- =-=Rp.24.000.000,-hari. Untuk seminggu, Anda perlu menyediakan modal sebesar Rp.24.000.000.- x 6 hari =Rp.144.000.000,-
Jadi biaya investasi total yang diperlukan adalah Rp.1.841.125.000,-






(Daniel Santoso)

Nilai-nilai dalam Bisnis


John D. Beckett



Arah bisnis ditetapkan bukan hanya oleh visi yang jelas tetapi juga oleh sekumpulan nilai-nilai dasar. Jika dipikirkan baik-baik dan dikomunikasikan dengan efektif, nilai-nilai itu merupakan alat yang tepat untuk memusatkan energi sebuah organisasi. Nilai-nilai itu akan menjadi pedoman yang mengarahkan perusahaan menuju pada pencapaian visi.
Pertanyaan kunci yang dihadapi setiap orang dalam bisnis adalah “nilai-nilai apakah itu?” Banyak orang mencari jawabannya.
Saya rasa nilai-nilai ini perlu berakar pada Alkitab. Selain itu, perumusan nilai-nilai itu juga haruslah sederhana, mudah dipahami dan mudah diingat  sehingga kita dapat menyebarluaskannya melalui pendidikan dan latihan.

Integritas
Definisi integritas adalah ketaatan pada sebuah standar nilai. Sesuatu yang dapat diandalkan dan utuh biasanya dapat dikatakan memiliki integritas. “Sesuatu” itu bisa berupa struktur, filosofi, atau seseorang. Kebalikan dari integritas adalah hal-hal yang dapat dikompromikan, yang tidak utuh, yang tidak sehat. Dalam Alkitab, istilah integritas ini mencakup tentang kebenaran, kejujuran, ketulusan, ketidakbersalahan, keutuhan.
Mazmur 15 menggambarkan tentang orang-orang yang berintegitas. Kualitas karakter yang dominan dari orang-orang yang berintegritas adalah: yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil, dan yang mengatakan kebenaran dengan sepenuh hatinya—yang berpegang pada sumpah walaupun rugi (ayat 9). Secara sederhana saya membayangkan seseorang yang setuju menjual sebuah benda miliknya hanya dengan berjabat tangan sebagai tanda atas harga tertentu. Hari berikutnya ada orang lain yang menawarkan lebih banyak uang untuk membeli benda tersebut. Orang yang berintegritas pasti akan menghormati komitmen sebelumnya, walaupun orang yang datang belakangan dapat memberi keuntungan yang lebih besar kepadanya.

Dari pengalaman saya, integritas seorang pelaku bisnis diuji dari waktu ke waktu. Kami pernah menghadappi tantangan seperti di awal karier saya dengan pelanggan dari Jepang. Agen pembelian dari perusahaan itu meminta kami membayar sejumlah “komisi” ke rekening pribadinya atas penjualan produk kami kepada perusahaan tersebut. Menurut kami, hal itu merupakan tindakan penyuapan, tapi dari pengalaman itu kami kemudian tahu bahwa tindakan penyuapan seperti itu sudah umum terjadi di Asia. Menanggapi itu kami memutuskan untuk taat kepada standar-standar etika kami dan menolak pembayaran “komisi” dengan kesadaran bahwa hal itu dapat merugikan bisnis kami. Untungnya, hal itu tidak benar-benar terjadi. Ketika kami menolak untuk membayar agen itu, ia justru berkata,”Bagus. Saya hanya berpura-pura memintanya.”
Bayangkan betapa besar pengaruh integritas  dalam mengubah citra buruk yang menodai bisnis modern. Mungkin pada masa yang akan datang perjanjian bisnis cukup dilakukan dengan berjabat tangan menggantikan sistem kontrak yang berbelit-beli. Tidak akan ada berita tentang skandal bisnis dan korupsi. Nilai-nilai mutlak yang telah teruji oleh waktu akan menggantikan relativisme moral yang telah mengakibatkan begitu banyak kebingungan tentang bagaimana kita harus berpikir dan bertindak.  Dengan integritas , para karyawan tidak akan terjebak dalam dilema tentang kapan mereka bisa berbohong dan kapan tidak boleh.

Excellence
Seperti integritas, excellence adalah konsep yang juga berakar pada Alkitab. Dalam suatu seminar kecil yang kami adakan bersama 60 manajer dalam perusahaan kami, saya menugaskan mereka untuk melihat betapa sempurnanya bukti-bukti yang terdapat dalam halaman-halaman awal Alkitab, yakni pasal pertama kitab Kejadian. Setiap orang  dalam kelompok ini menemukan tujuh kali Allah mempertimbangkan berbagai aspek dari semua yang telah diciptakan-Nya – dan melihat bahwa semua itu baik. Pada kenyataannya, pada hari terakhir Allah melihat bahwa segala sesuatu yang telah diciptakan-Ny dan berkata bahwa semua itu sungguh sangat baik. Itulah yang disebut hasil terbaik!
Inilah yang terpenting. Segala sesuatu yang telah diciptakan Allah merupakan hasil yang excellence!
Sementara kitab Kejadian melukiskan gambaran awal tentang natur Allah, kitab-kitab lain sesudah Kejadian juga tidak dapat menyembunyikan kekaguman dan ketakjuban akan Allah yang tak terlukiskan. Dia bersemayam di alam yang tak terselami oleh imajinasi manusia—alam  yang sepenuhnya murni, bebas dari kecemaran dan dosa, tersusun dengan sempurna, dan sangat indah.
Keadaan excellence ini yang melukiskan natur dan kerajaan tempat Dia bersemayam berintegrasi dengan dunia tempat kita hidup. Iniah yang sebenarnya dimaksud Yesus ketika mengajar para murid-Nya untuk berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu, di bumi seperti di surga.”
Apapun yang menyandang tanda kerajaan Allah, pastilah excellence. Kita memang tidak akan pernah menyamai kesempurnaan surgawi, tetapi  bila kita bersekutu dengan dengan duta Kristus dengan duta Allah bagi dunia, yakni Yesus Kristus, maka paling tidak kita akan mendekati kondisi tersebut. “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Inilah panggilan untuk menjadi excellence.
Michael J. Fox, aktor film yang berbakat, mengungkapkan suatu perbedaan yang nyata:”Saya berhati-hati agar tidak bingung membedakan antara excellence dengan kesempurnaan. Saya dapat mengusahakan excellence, tetapi kesempurnaan adalah urusan Allah.”
Suatu cara yang telah kami coba untuk mendukung konsep excellence ini adalah dengan mengusahakan “perbaikan yang terus-menerus” dalam hal yang kami lakukan di perusahaan. Ini berlawanan dengan dengan konsep, “Jika sesuatu belum rusak, jangan diperbaiki.” Perbaikan yang  terus-menerus akan berkata, “sekalipun sesuatu belum rusak, carilah cara untuk menjadikannya lebih baik.”
Baru-baru ini tim yang mengecat produk kami menerima tantangan seperti di atas setelah melakukan hal-hal yang sama dari tahun ke tahun. Para teknisi mengembangkan sebuah sistem yang meningkatkan produktivitas hingga lebih dari 40 persen. Sekarang mereka kembali bergumul dengan tantangan itu, yakni untuk mencari cara meningkatkan kualitas cat dan mengurangi polusi ke atmosfir. Kami yakin di masa mendatang mereka akan menemukan sejumlah gagasan baru lagi.
Excellence. Pada dasarnya, excellence tidak ditentujan oleh produk atau proses, melainkan oleh orang-orang yang mengerjakannya.



Yesus sang Tukang Kayu
Pernahkah Anda memikirkan bagaimana Yesus memulai karir profesional-Nya? Dahulu Dia adalah usahawan kecil, seorang tukang kayu. Bayangkan sejenak kondisi Yesus sebagai tukang kayu, bukan sebagai pemimpin agama. Saya mempunyai lukisan arang beraliran kontemporer tentang Yesus, sang tukang kayu. Saat ini lukisan tersebut menghiasi bagian atas meja tulis kantor saya. Gambar itu melukiskan Yesus sedang memegang sekotak peralatan pengetam kayu dengan tangan-Nya yang kasar dan kuat, mata-Nya tampak puas memandangi pekerjaan yang sedang dilakukan-Nya. Manakala memandang lukisan itu, saya berpikir betapa luarbiasa kualitas pekerjaan sang tukang kayu itu. Sekalipun dibuat hanya dengan peralatan yang sederhana pada waktu itu.
Terkadang saya membayangkan saat Dia memberi sentuhan akhir pada sebuah lemari yang dibuat-Nya untuk seorang janda tua, yang tinggal di ujung jalan tempat toko-Nya yang sederhana berada. Dia akan mengantarkan lemari itu siang ini. Saat Dia datang, janda itu mengundang-Nya masuk untuk berbincang-bincang, dan wanita itu sungguh terpesona akan pengetahuan dan sikap-Nya yang halus;. Dia bukan tukang kayu biasa, pikir janda itu, ketika Yesus kembali kepada kegiatan-Nya yang lain.
Lalu janda itu mendekati lemarinya. Lemarinya dengan potongan yang sempurna ini benar-benar dihargai mahal, demikian ia menyimpulkan. Karena matanya sudah agak kabur, ia meneliti lemari itu dengan hati-hati, mengelus benda itu dari belakang ke depan, dari atas ke bawah. Tampaknya karya ini sungguh sangat baik. Sambungan-sambungannya, ketepatan ukurannya, juga polesannya, semua begitu halus. Ia tidak sabar lagi utuk memperlihatkanlemari itu kepada tetangganya. Ia menyimpulkan, “Hasil kerja tukang kayu ini benar-benar sangat baik.”
Yesus selalu memberikan yang excellence—segala hasil karya-Nya saat berada di bumi semata-mata merupakan cerminan dari ketekunan-Nya, karakter-Nya yang tak bercela, natur-Nya, hidup-Nya, dan misi-Nya.

John D. Beckett adalah pimpinan puncak R.W. Beckett Corporation di Elyria, Ohio. Ini adalah perusahaan terbesar di dunia yang membuat pemanas minyak. Ia juga pendiri Advent Industries yang membuat pelatihan kerja bagi orang-orang yang sulit mendapatkan pekerjaan karena latar belakang mereka yang buruk. Dikutip dari buku “Loving Monday” terbitan Yayasan Gloria.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Majalah Gema Kreasi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger