Headlines News :

Peluncuran Majalah Gema Kreasi Indonesia


Tidak mudah mengumpulkan para pengusaha karena mereka memiliki kesibukan masing-masing. Karena itu, keberhasilan pengurus KUMAS mengumpulkan lebih dari 50 pengusaha adalah prestasi yang membanggakan. Mereka rela menyisihkan waktu untuk menghadiri peluncuran majalah Gema Kreasi Indonesia di aula pertemuan GKI Samanhudi, Sabtu 12 Januari 2013.
Peluncuran majalah ini ditandai dengan sharing kiat sukses empat pengusaha yang berjemaat di beberapa GKI. Setelah itu, dua pembicara publik mengulas kisah sukses mereka. Jansen Sinamo mengupas dari sisi etos bisnis dan Jahja Sunarja mengamati dari sudut pandang strategi bisnis.
Berikut ini kutipan kisah sukses para pengusaha:


Hendri Prabowo (Pemilik restoran “Bebek Kaleyo”)
“Saya memulai usaha ini dengan kerja keras. Saya harus mencoba menemukan resep sebanyak lebih dari 100 kali sebelum akhirnya mendapatkan resep yang disukai oleh konsumen. Dalam menjalani bisnis selama enam tahun ini, saya mendapat banyak masalah. Namun melalui berbagai masalah itulah saya justru bisa mengalami pertolongan Tuhan yang luarbiasa. Ada satu hal pembelajaran penting yang saya dapatkan selama mengelola usaha ini. Ketika menghadapi suatu masalah, kita perlu menunjukkan kepada Tuhan bahwa kita mau serius dalam memecahkan masalah itu. Ketika kita berhasil meyakinkan Tuhan bahwa kita serius, maka Tuhan akan membukakan jalan bagi kita. Hal seperti ini berkali-kali saya alami. Untuk itulah apa pun bidang usaha kita, asalkan kita bisa meyakinkan Tuhan bahwa kita serius menekuninya, maka yakinlah bahwa kita akan dibuat berhasil oleh Tuhan.”

Pak Koko (pemilik Bakmi “Gadjah Mada”)
“Bakmi Gadjah Mada (GM) itu adalah usaha keluarga. Tahun 1971, bakmi GM sudah berkembang, tapi belum memiliki cabang. Keluarga dari isteri saya ingin membuka cabang baru di Jakarta Selatan. Saya mendapat tugas untuk mensurvei tempat yang akan disewa yaitu di lantai dua di sebuah gedung bioskop. Saya melihat bahwa tempat itu tidak cocok karena sulit untuk menaik-turunkan barang, membuang sampaj dan jika dapur bocor maka dapat mengganggu pengguna di antai bawah. Saya menyarankan untuk menyewa ruko. Usulan saya disetujui.
Bakmi GM mulai berkembang. Namun pada tahun 1979, bakmi GM diterpa krisisi hebat. Majalah Tempo menurunkan berita bahwa ada desas-desus bakmi GM menggunakan kaldu dari bayi. Rumor ini sebenarnya tidak masuk akal, tapi kebanyakan orang senang pada sensasi. Akibatnya pengunjung restoran menurun drastis. Meski demikian, saya dan isteri tidak kehilangan pengharapan. Sebelum berhembus isu itu, kami sering mengadakan persekutuan doa di restoran. Berkat adanya persekutuan itulah kami tetap bisa bertahan ketika krisis terjadi.
Kami memiliki keyakinan bahwa Allah bekerja di setiap perkara. Pasti ada hal baik yang akan alami di balik krisis ini. Waktu itu mertua saya belum mengenal Kristus secara pribadi. Dia pergi ke tempat ibadah keyakinan lain untuk meminta petunjuk. Tokoh spiritual yang didatangi bercerita bahwa melalui mata rohaninya dia melihat bahwa outlet kami yang berada di Jakarta Selatan dikelilingi oleh sinar yang kuat. Saya yakin bahwa sinar itu adalah perlindungan dari Tuhan.
Setelah 6 bulan, kami berhasil melewati krisis. Saya bersyukur karena pada masa-masa sulit itu teman-teman seiman banyak mendukung kami. Contohnya jemaat GKI Samanhudi tidak percaya pada isu ini. Mereka mengundang kenalan-kenalan untuk makan di restoran kami. Dengan begitu, perlahan-lahan masyarakat percaya bahwa isu itu hanya isapan jempol belaka. Pujin Tuhan, usai krisis itu berlalu, restoran ini mengalami perkembangan pesat. Saat ini kami sudah memiliki 25 gerai bakmi GM. Setiap gerai, kami mempekerjakan sekitar 50 karyawan.”


Uripto Wijaya (pendiri Galva)

Saya memulai usaha setelah saya berhenti sekolah di Pahoa. Usaha pertama saya adalah sebagai tukang solder. Saya menyambung komponen radio yang diputus oleh bala tentara Jepang supaya tidak bisa menerima siaran dari luar negeri. Usaha itu kemudian berkembang hingga seperti sekarang ini.
Secara umum, keberhasilan usaha kami ini tidak begitu luar biasa. Ada banyak perusahaan lain yang omzetnya jauh lebih besar. Saya hanya ingin membagikan satu hal yang menjadi kekuatan kami yaitu kesetiaan karyawan. Rata-rata karyawan yang bekerja di tempat kami tidak banyak yang pindah-pindah kerja. Banyak yang memulai pekerjaan di Galva, dan kemudian pensiun tetap Galva. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena saya memperhatikan kesejahteraan mereka. Jika kita memperhatikan kebutuhan karyawan dan memperlakukan karyawab dengan baik, maka mereka akan membaalasnya dalam bentuk loyalitas. Sebagai contoh, perusahaan kami memberikan gaji sebanyak 14 bulan dalam setahun. Itu adalah aturan normatif dan banyak perusahaan lain yang melakukannya. Akan tetapi yang tidak banyak dilakukan oleh perusahaan lain adalah pembagian keuntungan perusahaan. Setiap tahun kami membagikan keuntungan perusahaan kepada karyawan dengan persentase tertentu. Jika laba naik, maka kesejahteraan karyawan meningkat. Dengan cara ini maka karyawan didorong untuk bekerja produktif.
Selain gaji, di perusahaan kami juga ada koperasi karyawan. Awal mulanya, saya melihat bahwa gaji karyawan itu habis di tengah bulan karena digunakan untuk membayar hutang di toko kelontong. Karena berhutang, maka harga yang harus mereka bayarkan menjadi lebih tinggi. Karena itulah saya memberi modal untuk pembukaan koperasi karyawan. Koperasi ini menyediakan kebutuhan pokok. Karyawan boleh berhutang tanpa bunga yang memberatkan. Sekarang, koperasi ini berkembang dengan baik, bahkan sudah menyamai minimarket. Kami juga menyediakan perumahan dan jaminan kesehatan bagi karyawan. Pada intinya, saya telah mengangkat karyawan sebagai bagian dari keluarga saya. Hal inilah yang membuat Galva dapat berkembang sampai sekarang ini.

Aktivitas Kumas




Ibu Yerry Setiawan telah berhasil melunasi angsuran pinjamannya. Ibu berusia 61 tahun ini adalah peserta Pelatihan Usaha Mandiri yang diselenggarakan oleh GKI Samanhudi. Sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini, ibu Yerry membuka kios di pasar Ganevo, Jakarta Barat dengan bantuan pinjaman modal dari KUMAS.
Dengan membuka usaha warung makan, ibu Yerry setia membayar cicilan pinjaman. Makanan yang disediakan di warungnya adalah nasi uduk, lontong sayur, mie goreng, dll. Ciri khas warung ini adalah tersedianya makanan murah, bersih dan sehat bagi pengunjung pasar dan juga bagi pedagang lain yang berada dipasar tersebut.
Setahun sudah berlalu. Pada tanggal 18 Februari 201,3 Ibu Yerry telah melunasi angsuran pinjamannya yang terakhir.



Pada tanggal 17 Febuari Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan lebat dan hampir seluruh wilayah Ibu Kota terendam banjir. Banyak warga  Jakarta yang mengalami kesulitan dalam hal sandang dan pangan, Koperasi KUMAS tergerak untuk menyalurkan bantuan. KUMAS bekerja sama P.T Sosro Indonesia menyalurkan bantuan air Mineral dalam kemasan Ber Merk Prim-a sebanyak 400 Karton dan bantuan ini diserahkan langsung kepada Sinode Jabar yang diterima Oleh Bpk. Sukidi  Martono (Kepala Kerumah tanggaan). Selanjutnya pihak sinode menyalurnya kepada warga di sekitar Cengkareng, Pluit, Penjaringan dll.





Koperasi mendapatkan kesempatan untuk membuka kantin di CNI Building, Jl. Puri Indah Blok 02 No. 1-3 Kembangan Jakarta Barat.  Kantin mulai dinuka sejak tanggal 7 Maret 2013. Kantin ini menyediakan makanan khas Indonesia. Diharapkan dengan dibukanya kantin ini, KUMAS dapat turut berpartisipasi menyediakan makanan yang bersih dan sehat dengan harga terjangkau bagi sekitar 500 karyawan CNI dan BCA yang berkantor di gedung tersebut.  Pembukaan kantin dimungkinkan terjadi berkat relasi yang baik antara CNI dan Ibu Winarsih Suryawidjaja yang juga merupakan bendahara Koperasi KUMAS.




Pada volume 1, majalah Gema Kreasi Indonesia menampilkan produk beras organik dan kelapa kopyor.  Ternyata info dalam majalah tersebut mendapat sambutan positif. Beberapa pembaca menghubungi pihak KUMAS untuk mendapatkan produk tersebut. Nama-nsama di antara para pemesan adalah ibu Lanny Wijaja, ibu Bein Agustina, ibu Frida,  dan bpk. Steven dll. (Willer Hutapea)



Melestarikan Becak ala Cianjur


Hari-hari Hasyim dan sebagian besar tukang becak di Cianjur diwarnai perjuangan yang berat hanya untuk mendapatkan sedikit rupiah. Harga sembilan bahan pokok yang terus meroket tinggi, membuat penarik becak dan delman harus memikul beban yang makin tidak ringan. Ditambah persaingan dengan para pengendara ojek dan angkutan umum kota (angkot) yang semakin kompetitif, beban yang harus ditanggung para pengendara angkutan tradisional tersebut semakin berat.

Menurut data yang dihimpun Radar Bogor pada akhir 2008, jumlah penarik becak di Cianjur mencapai 1500 becak dan 500 delman. Mereka mangkal tersebar di wilayah kota Cianjur, meliputi Jalan Shanghai, Jalan Pangeran Hidayatullah, Jalan HOS Cokroaminoto-Mangunsarkoro serta Pasar Induk Cianjur.

Mulyadi (61) penarik Becak di Pasar Induk Cianjur mengeluhkan penghasilannya menurun. Pada tahun–tahun sebelumnya penghasilan satu hari bisa membeli berbagai keperluan yang cukup, termasuk biaya pendidikan dan kesehatan. Sedangkan saat ini hanya bisa untuk makan saja.
Setiap hari dia bisa mengumpulkan uang sebesar Rp. 25.000,- Jumlah itu harus dikurangi Rp.5000,- untuk sewa becak dan Rp. 10.000,- Hanya tersisa Rp. 15.000,- untuk dibawa pulang. Meski penghasilan minim namun ebagian besar penarik becak memilik masih terus “ngebecak” karena tidak punya keahlian lain.
Melihat realitas ini, GKI Cianjur menggelar program“Peduli Becak”, berupa pemberian kredit pengadaan becak serta peningkatan kemampuan ekonomi para tukang becak dan keluarganya. Program ini didasarkan pada kerinduan untuk melestarikan becak karena dirasakan moda transportasi ini ramah lingkungan dan bagi beberapa orang cukup menghidupi.
Dalam program ini, GKI Cianjur memberi pinjaman tanpa bunga kepada tukang becak agar bisa memiliki becaknya sendiri. Lamanya angsuran tergantung pada harga becak. Biasanya para tukang becak memilih untuk membeli becak baru yang harus dipesan di Cirebon. Harga becak baru beserta ongkos kirim mencapai 2,5 juta rupiah.

Selain pengadaan becak, program ini juga melatih para tukang becak atau keluarganya memiliki usaha lain. Kredit modal usaha diberikan pada istri atau anak dari para tukang becak. Pinjaman diberikan dengan sistem tanggung renteng (tanggung-jawab bersama di antara para tukang becak dalam satu kelompok).
GKI Cianjur membuat program ini bukan karena kemampuan keuangannya sudah mapan. Kenyataanya, malah neraca keuangan cenderung defisit. Akan tetapi hal ini tidak menyurutkan GKI Ciancur untuk peduli pada masyarakat. Selain melakukan penggalangan dana internal, GKI Cianjur juga pernah mendapat dukungan dari GKI Muara Karang dan GKI Halimun.
Dampak dari program ini sudah dinikmati oleh Hasyim. Tukang becak ini mendapat pinjaman untuk membeli becak bekas yang telah diremajakan dengan harga Rp. 1.200.000,- Dia seharusnya mengembalikan hutang dengan mengangsur sebanyak 12 kali, tapi dia berhasil melunasi pinjaman hanya dengan 8 kali angsuran.
Mengapa bisa selesai lebih cepat? Hasyim menjawab: Saya ini orang kecil. Saya baru pertama kali dipercaya dapat pinjaman sebesar ini, saya nggak mau ngecewain gereja yang sudah kasih saya kredit”.
Saat ini Hasyim menjadi ujung tombak yang merekomendasikan siapa yang layak diberikan pinjaman setiap kali ada dana yang bisa disalurkan dalam program “peduli becak”ini.

Beras Organik Lebih Sehat


Peningkatan kesadaran perlunya pelestarian lingkungan mendorong maraknya pertanian organik. Pertanian organik adalah gerakan kembali menggunakan cara-cara alami dalam budidaya tanaman. Kelompok tani di kecamatan Karangdowo, Klaten ikut pula andil dalam pertanian organik. Kelompok ini unik karena dipelopori oleh pendeta dari Gereja Kristen Jawa, namun anggotanya terdiri dari berbagai agama.
Sejak dari penggunaan benih, para petani tidak membeli benih buatan pabrik tetapi mengambil dari lumbung sendiri. Mereka juga meninggalkan pupuk kimia dan beralih pada pupuk kandang yang telah diolah. Saat harus mengenyahkan hama, mereka meramu pestisida alami.Mereka juga memanfaatkan hewan lain sebagai predator. Contohnya, dengan tidak membunuh ular sawah karena hewan melata ini memangsa tikus.
Sampai saat ini mereka telah menghasilkan beras organik, yaitu genjah rante, mentik susu, beras merah dan beras hitam.  “Genjah rante itu setara dengan beras C4,” terang pdt. Raditya Wishnu saat ditemui Gema Kreasi Indonesia di rumah pastorinya. “Namun dari segi rasa, genjah rante lebih enak daripada C4,” tambahnya. Raditya lalu menunjukkan beras mentik susu. “Jika dimasak, beras ini akan mengeluarkan aroma yang wangi sehingga bisa membangkitkan selera makan,”lanjutnya. Saking wanginya, beras ini sebaiknya dicampur dengan beras genjah rante dengan perbandingan 1:4.
Kelompok tani juga menanam beras merah yang biasa digunakan untuk konsumsi diet. Beras merah ini memang lebih mudah mengenyangkan. Karena kaya dengan vitamin B, vitamin E dan zat mineral, maka beras merah membentuk energi dalam tubuh manusia. Beras merah mempunyai banyak serat sehingga baik untuk pencernaan dan membantu tubuh menyerap gula dan karbohidrat.
Para ahli juga menemukan bahwa beras merah mengandung zat selenium yang di dalamnya terdapat enzim glutation peroksidase yang berfungsi sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida.Peroksida biang kerok timbulnya kanker. Kaya akan magnesiaum, fungsi zat mineral ini sangat banyak seperti menurunkan keakutan asma, menurunkan tekanan darah tinggi, mengobati migrain, mengurangi resiko penyakit jantung dan strooke.Selain itu magnesium ini sangat bagus dalam menjaga dan membetuk kekuatan tulang. Pigmen merah pada beras terbentuk dari zat antosianin melindungi tubuh dari penyakit hepatitis, stroke, kanker, alzhiemer dan penuaan pada otak.


Tidak hanya beras merah, mereka juga menanam beras hitam. Konon beras ini adalah beras pusaka yang menjadi hidangan wajib di meja makan para raja di kawasan Asia. Saat masih mentah, beras ini berwarna hitam, namun ketika sudah masak ternyata berwarna ungu tua.  Beras hitam mendapatkan warna gelap dari zat antosianin, sama seperti pada beras merah, tapi kadarnya lebih banyak
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition pada tahun 2008 menunjukkan bahwa ekstrak dari beras hitam saat diujicoba pada tikus membantu mencegah perkembangan plak aterosklerosis pada arteri utama dari jantung, jenis yang akhirnya akan menyebabkan serangan jantung.Zat iIni juga menurunkan komponen lipid termasuk trigliserida. Bahkan, ekstrak beras hitam ditemukan sekuat resep obat simvastatin, obat yang digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol.
Beras hitam adalah sumber mineral yang baik, termasuk besi, serta serat dan memiliki profil nutrisi agak mirip dengan beras merah. Kehadiran antosianin memberikannya keunggulan gizi dibandingkan beras merah.
Secara umum, beras hasil pertanian organik ini lebih sehat karena tidak mengandung residu pestisida. Keunggulan lainnya, nasinya tidak mudah basi. Saat ini, beras sehat organik produksi kelompok tani di Klaten ini sudah bisa didapatkan di Jakarta. Silakan hubungi:
K U M A S
(KOPERASI USAHA MANDIRI SAMANHUDI)
Jl. Taman Sari I A No. 4 B – Jakarta Barat
Telp. 021- 6288936

Peluang Bisnis Waralaba



Waralaba dapat menjadi solusi untuk percepatan ekspansi sebuah merek dan pada akhirnya memperbesar pundi-pundi pemilik merek. Itu adalah salah satu keuntungan bisnis waralaba yang disampaikan oleh Utomo Nyoto, seorang konsultan waralaba, pada seminar Meraih Peluang Bisnis Waralaba” di GKI Dipo, Surabaya.
“Lihatlah apotik K-24 yang merembet dengan cepat ke pelosok-pelosok daerah. Seandainya tidak diwaralabakan maka K-24 tidak memiliki cukup modal untuk membuka gerai sebanyak seperti sekarang ini,” lanjut Utomo yang juga menjadi konsultan yang bagi  K-24, de boliva, boncafe, dan rodalink ini.
Di dalam bisnis terdapat dua pemain pokok, yaitu franchisor (penjual waralaba) dan franchisee (pembeli waralaba). Keduanya sama-sama pelaku bisnis mandiri, namun karena franchisor telah memiliki pengalaman yang lebih dahulu, maka dia menawarkan kelebihannya itu kepada franchisee. Tidak menutup kemungkina, seiring dengan waktu, pengalaman keduanya akan sebanding.

 

Bagi calon pembeli waralaba, Utomo Nyoto memberikan tips-tips sederhana agar dapat mengendalikan resiko investasi. Utomo menyarankan agar calon pembeli memilih merek yang terkenal karena sudah memiliki potensi pasar yang potensial. Selanjutnya calon pembeli perlu menelisik apakah penjual waralaba itu memiliki produk berkualitas yang dipercaya oleh konsumen atau tidak. Di samping itu yang tidak kalah pentingnya adalah adanya standarisasi produk,” papar Nyoto Utomo. Dia memberikan ilustrasi berupa produk waralaba Mc Donals, yang memiliki rasa dan standar pelayanan sama di tiap gerainya karena sudah memiliki standar baku.
Lantas apakah bisnis waralaba bisa merugi? “Tentu saja bisa,” tegas Utomo Nyoto. Sebagaimana bisnis lain, waralaba pun berpotensi mendalami kerugian. Selain itu masih ada risiko lain yang perlu diwaspadai yaitu penipuan berkedok waralaba. Itu sebabnya, calon pembeli perlu banyak bertanya untuk mendapatkan penjelasan sedetail mungkin dari pemilik waralaba.
Utomo Nyoto juga menjelaskan bahwa bisnis penjual waralaba tidaklah harus selalu bermodal besar. Dengan modal yang kecil dan usaha yang sama, beberapa pengusaha dapat mendirikan sebuah merek yang kemudian dijual sebagai usaha waralaba. Laundry  Zone adalah satu contohnya. Pada mulanya adalah beberapa individu yang bergerak dalam usaha jasa cuci kiloan dengan merek sendiri-sendiri. Mereka lalu bergabung untuk mendirikan merek baru yakni Laundry Zone, yang selanjutnya dijual sebagai bisnis waralaba.
Selain penjual dan pembeli, masih ada peluang bisnis di bidang waralaba yaitu sebagai pemasok. Contohnya adalah salah seorang jemaat di gki Diponegoro yang menjadi pemasok  pada waralaba hoka-hoka bento. Dengan menjadi supplier pada produk waralaba, tentunya pendapatan akan berlipat ganda karena semua gerai diharuskan mengambil dari supplier yang telah direkomendasikan oleh pihak franchisor. (Tri Hajar)

Menabur Benih di Mentawai




Gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat pada 25 Oktober 2010 telah mengakibatkan pemukiman penduduk, dan fasilitas umum seperti sekolah dan rumah ibadah rata dengan tanah. Sedikitnya 509 jiwa tewas, 267 dinyatakan hilang, lebih dari 10 ribu mengalami luka-luka dan sebanyak 700 anak-anak menjadi yatim piatu.
Para relawan yang terlibat dalam aksi tanggap darurat, baik di Tuapejat maupun Pulau Pagai Selatan, keduanya di Kabupaten Mentawai, kembali ke ibu kota dengan membawa begitu banyak fakta menyedihkan, sehingga diperlukan dukungan jangka panjang untuk pemulihan pasca bencana. Bertolak dari keadaan itu, terbentuklah Yayasan KAUM (Kasih Abadi Untuk Mentawai) yang merupakan kerjasama beberapa organisasi antara lain Gerakan Kemanusiaan Indonesia, BPK Penabur Jakarta, YPK Ketapang, YPK Bina Siswa dan GKSI.
Sampai saat ini, berkat dukungan para mitra dan donatur, Yayasan KAUM telah membangun asrama/panti asuhan, satu gedung sekolah SMA yang teridiri dari 6 ruang kelas, dan sarana pengadaan air bersih yang dirancang sebagai bangunan tahan gempa. Namun, sarana/panti asuhan seluas 400 m2 tersebut belum memadai untuk menampung semua anak-anak.
Sebagai kelanjutan pembangunan masyarakat setempat, Yayasan KAUM telah membeli lahan seluas 13 hektar di 3 lokasi di Mentawai yang diperuntukkan bagi pembangunan asrama/panti asuhan, gedung sekolah (SD-SMA), serta sarana pengembangan lahan pertanian/perkebunan, peternakan, dan olah raga.
“Mentawai memiliki potensi alam yang luar biasa. Karena itu yang diperlukan untuk dapat mengelola sumber daya yang tersedia adalah pelatihan, pembinaan, dan penyadaran akan potensi dan pengembangan diri. Mengubah pola pikir, itu yang terutama, sehingga masyarakat Mentawai pasca bencana, dapat menjadi masyarakat yang mandiri dan dapat melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Ini merupakan proses pembinaan berkelanjutan yang memerlukan dukungan dari kita semua, sebagai sesama saudara, satu Indonesia.” Kata Ketua Yayasan KAUM, Yusak Ismanto, kepada media baru-baru ini di Jakarta.
Sebagai bentuk tindak lanjut program pembangunan masyarakat Mentawai, Yayasan KAUM bekerjasama dengan MRA Grup dan Metro TV, menggalang dana untuk Mentawai melalui acara malam dana bertajuk Hands for Mentawai di Hotel Mulia, Jakarta, Sabtu (25/10). “Kami mengedepankan transparansi, sehingga satu sen pun akan kami audit dengan laporan keuangan yang detail, sebagai bentuk pertanggungan jawab kami, “ ujar Winny Setiaadmadja, penggagas acara malam dana, yang juga menjabat sebagai Bendara Umum Yayasan KAUM.
Acara dihadiri Bupati Mentawai, Yudas Sabbagalet, pejabat terkait, para pemangku jabatan dari berbagai perusahaan swasta terkemuka, serta artis-artis ibu kota. (win)


Informasi lebih lanjut:

Sekretariat Yayasan Kasih Abadi Untuk Mentawai
www.kasihabadiuntukmentawai.org
Email: kasihabadiuntukmentawai@yahoo.com


Kantor: Gedung UKRIDA Lt. 4,  Jl. Tanjung Duren Raya 4 Blok E
Jakarta Barat  11470, Indonesia
Telepon: (021) 444 9 7777, (021) 569 66217
Fasksimilie: (021) 566 6957

Rekening BCA 372-016-7777
a.n. Yayasan KAUM

Investasi di Pasar Modal



Ibarat bandul pendulum, dinamika pasar saham itu mengayun dari ujung optimisme dan pesimisme pada ujung yang lain. Optimisme temporer akan menjadikan saham terlalu mahal, sedangkan pesimisme yang tidak berdasar meyebabkan harga saham terlalu murah. Seorang investor yang pintar adalah seorang realis yang menjual sahamnya kepada orang optimistis dan membelinya dari orang pesimistis. Demikian ibarat yang dibuat oleh Eka dari Universitas Kristen Dutawacana, dalam diskusi “Investasi di Pasar Modal”, di GKI Klaten, baru-baru ini.
Pengasuh Pojok BEJ ini memaparkan bahwa nilai uang akan menurun seiring dengan angka inflasi. “Dengan 15 juta rupiah, sekarang kita bisa membeli sepedamotor yang bagus. Namun lima belas tahun kemudian, uang itu hanya bisa untuk membeli rodanya saja,” papar Eka. “Dengan melakukan investasi, nilai uang kita tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa bertambah banyak.”
Ada berbagai macam pilihan investasi. Misalnya di bidang real asset seperti properti atau financial asset yaitu tabungan, deposito, reksadana, obligasi atau valas. Secara khusus, dia memaparkan tentang karakteristik saham. Dengan memiliki saham seorang investor akan memperoleh deviden, yaitu laba yang dibagi sesuai dengan kepemilikan saham. Investor juga memiliki hak suara dalam RUPS dan dimungkinkan untuk memiliki hak memesan efek terlebih dahulu.
Kepada jemaat yang akan mulai ‘bermain’ saham, Eka memberikan tips dalam berinvestasi di pasar saham. Pertama, prioritaskan invetasi pada perusahaan yang bidang usahanya dipahami oleh investor. Kedua, pilihlah perusahaan yang membukukan keuntungan (cenderung membagikan dividen). Ketiga, beli saham perusahaan yang tingkat penjualannya dan labanya tumbuh dari tahun ke tahun. Dan keempat, carilah perusahaan yang dikelola secara profesional dan transparan.
Rahasia keberhasilan keuangan Anda ada pada diri Anda sendiri. Dengan mengembangkan disiplin dan keberanian, Anda tidak akan membiarkan perubahan perilaku orang lain menentukan masa depan finansial Anda. Hal yang jauh lebih penting sebenarnya bukan bagaimana perilaku investasi Anda, tetapi bagaimana perilaku Anda,” pungkas Eka mengakhiri bincang-bincang di gereja jago pada malam itu [Purnawan].
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Majalah Gema Kreasi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger