Headlines News :

Henny Restiorini:Ternak Ayam itu Mudah, tapi Butuh Modal Besar



Sekarang ini ada banyak anak muda yang menganggur. Mereka sulit mencari pekerjaan. Sebenarnya mereka bisa membuka lapangan kerja untuk diri sendiri. Salah satunya dengan beternak ayam. Untuk beternak ayam tida dibutuhkan keahlian khusus. “Asal mereka mau tekun dan bekerja keras, mereka pasti bisa,” kata Henny Restiorini seorang pengusaha peternakan ayam dari Bandung.





Namun dia mengakui bahwa untuk beternak ayam sekarang ini membutuhkan modal usaha yang sangat besar. Untuk itulah, pihaknya membuat sistem kemitraan dengan masyarakat. Pihaknya menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pemeliharaan ayam. Sedangkan pihak masyarakat hanya bertugas memeliharai anak ayam hingga menjadi ayam yang siap dipotong. “Dengan sistem ini, masyarakat tidak perlu pusing memikirkan fluktuasi harga daging ayam. Jika dalam dalam pemeliharaan itu mengalami kerugian karena harga daging ayam anjlok atau harga pakan meroket tinggi, maka kerugian itu akan ditanggung oleh pengusaha saja. Masyarakat yang memelihara tetap mendapatkan penghasilan. Ini adalah uang talangan yang akan diperhitungkan pada periode pemeliharaan berikutnya. Jika pada  panen berikutnya. mendapatkan keuntungan, maka keuntungan ini dinikmati bersama antara masyarakat dan pengusaha. Akan tetapi jika ada keuntungan maka pertama-tama keuntungan itu untuk mengganti uang talangan jika sebelumnya merugi, Kemudian diberikan bonus. Bonus inilah yang menjadi daya tarik khusus bagi para pekerja dan dimaksudkan supaya mereka tetap dapat bekerja dengan baik tanpa ada yang mengawasi,” papar anggota jemaat GKI Taman Cibunut ini.
Henny terjun ke bisnis peternakan ini dilandasi oleh kecintaannya kepada hewan. Bersama dengan suami, Henny mengawali usaha dengan pembibitan anak ayam (breeding) padahal mereka tidak banyak memiliki pengetahuan di bidang ini. Usaha ini bertahan sampai 5 tahun sebelum akhirnya beralih ke usaha peternakan ayam petelur. Mereka mendapatkan penghasilan dengan menjual telur ayam.
Saat itu ada seorang insinyur yang memberikan inspirasi untuk membuat sendiri pakan ayam sendiri. Akan tetapi usaha pembuatan pakan ini tidak bertahan lama karena tergerus oleh gelombang pakan pabrikan. Mereka kemudian mendapat tawaran keagenan penuh sabagai distributor pakan ayam pabrikan. “Awalnya kami hanya mendapat orderan sekitar 2-3 ton di sekitar Bandung,” ungkap penyandang titel apoteker ini,” setelah itu meningkat sampai ribuan ton karena kami melakukan ekspansi pemasaran sampai Cirebon dan Tasikmalaya.


Ketika krisis ekonomi menghempas Indonesia, usaha distribusi pakan ayam ini mengalami kesulitan likuiditas. “Pembayaran dari peternak mengalami kemacetan karena mereka merugi dan tidak mampu,” ujar Henny. Demi menjaga integritas, Henny dan suami memutuskan untuk tetap membayar ke tagihan ke pabrik. Akibatnya mereka mengalami kesulitan keuangan.
Mereka pun menutup usaha distribusi pakan ternak ini dan mulai usaha peternakan ayam potong. Saat ini mereka memiliki kandang ayam di beberapa tempat, antara lain di Ciparay, Majalaya, Lembang, dan Cianjur. Pada setiap kandang, ibu kelahiran Solo ini menempatkan satu kepala kandang yang membawahi 3-5 orang yang disebut anak kandang. Setiap kepala kandang bertanggung jawab atas 15 ribu ekor ayam. Sedangkan setiap anak kandang memelihara 4-5 ribu ekor ayam. Setiap orang ini akan mendapatkan penghasilan berdasarkan jumlah ayam yang ditangani, ditambah dengan bonus bila setelah panen mendapatkan keuntungan besar.
Henny menjual ayam potong setelah berumur 32 hari. “Kami sudah memiliki market tersendiri untuk menyerap hasil panennya. Kami menjualnya dalam jumlah besar ke penyalur. Kami tidak menjual eceran ke restoran-restoran. Selain karena jumlahnya kecil,hal ini akan membuat koneksi dengan para penyalur tidak baik,” tuturnya.
Sebagai usaha keluarga, bisnis seperti ini memerlukan seni pengelolaan tersendiri. Ada kemungkinan persoalan yang timbul pada dunia usaha ini merembet ke wilayah keluarga dan mengganggu relasi antar keluarga. Bagaimana Henny mengantisipasi ini? “Saya melakukan pembagian tugas yang jelas dengan suami. Suami bertugas untuk menangani masalah keuangan. Sedangkan saya bertanggungjawab terhadap pengelolaan kandang. Sesekali memang terjadi perselisihan kecil namun biasanya hal itu dapat diselesaikan dengan membicarakannya.” Henny juga menerapkan asas Alkitab yaitu istri tunduk kepada suami. “Suatu kali saya pernah membuat keputusan sendiri, tanpa sepengetahuan suami. Akibatnya, Tuhan menegur saya. Setelah itu saya selalu bertanya kepada suami jika harus membuat keputusan yang penting,” tambah Henny.
Pada mulanya anak-anak Henny tidak ada yang berminat untuk melanjutkan bisnis orang tuanya. “Barangkali hal ini karena keluarga kami tidak tinggal di dekat peternakan, sehingga anak-anak tidak tumbuh di peternakan. Waktu kecil, anak-anak tidak suka ke peternakan. Mereka tidak tahan pada bau kotoran ayam,” terang Henny. Waktu itu hanya anak kedua dan ketiga yang  berminat melanjutkan bisnis ini. Sementara itu, anak pertama lebih senang menekuni bisnis di bidan real estate. Akan tetapi 8 tahun kemudian, dia pun mulai menunjukkan ketertarikan pada bisnis orangtua mereka. Penyebabnya bukan karena bujukan orangtua melainkan karena ketidaksengajaan. Saat itu salah satu kenalan dari anak pertama ini menceritakan tentang keberhasilan usaha orangtuanya. Hal ini memicu perasaan anak sulung ini. Barulah kemudian si anak menanyakan kepada ibunya tentang seluk beluk usaha peternakan ayam potong. Meski sama-sama menekuni bisnis peternakan ayam potong, namun di antara anak dan orangtua ini mengelola kandang di lokasi yang berbeda.

 

Henny di Mata Jeffrey, anaknya
“Saya mengikuti jejak mami dalam berusaha ayam potong ini baru beberapa tahun terakhir. Pertama kali terjun ke dunia peternakan ayam potong, saya ditempatkan di Cianjur untuk mengurus kandang. Saya harus memulai mengurus dari pekerjaan paling rendah dengan tujuan supaya saua mengetahui seluk-beluk usaha ini.
Di dalam mengelola peternakan ini, mami memiliki sikap terbuka. Dia membuka diri pada pikiran dan pengetahuan baru. Selain itu juga terbuka dalam menularkan pengalaman dan pengetahuannya. Kami mengelola lahan secara terpisah. Masing-masing bertanggungjawab pada lahannya sendiri. Meskipun demikian, bila ada salah satu yang mengalami keberhasilan, maka faktor sukses itu dibagikan kepada yang lain  sehingga bisa dicoba di masing-masing lokasi.


Dari mami, saya juga mendapatkan pelajaran bahwa lingkungan sosial sangat mempengaruhi keberhasilan peternakan ayam ini. Untuk itu peteran harus benar-benar memahami karakter sosial, mental dan gaya hidup masyarakat yang tinggal di sekitar kandang. Jika di daerah itu ada premannya, maka kita harus pintar-pintar dalam menjalin hubungan dengan mereka supaya mereka tidak menjadi faktor pengganggu.
Di dalam kandang sendiri, peternak juga harus mengantisipasi pekerja kandang yang nakal. Kami mendapati ada pekerja yang mencuri ayam. Modusnya, mereka melaporkan ada ayam yang mati. Pada kenyataannya, ayam itu sebenarnya masih hidup dan dijual sendiri.

Motivator Agar si Miskin Menabung





Kalau Anda ditawari produk tabungan dengan bunga nol persen, apa tanggapan Anda? Anda mungkin berpikir, apakah orang yang menawarkan ini sudah gila? Tunggu dulu, penawaran ini masih ditambahi ketentuan lagi: Anda akan dibebani biaya administrasi. Bagaimana? Mungkin Anda akan berkata alay: Ciyus? Miapah? (Serius? Demi apa?)
Produk tabungan ini serius dan benar-benar ada. Adalah Joseph Tjandra Irawan yang menciptakan ide gila ini. Dia prihatin melihat sebagian besar masyarakat di Indonesia tidak bisa mengakses layanan perbankan. “Untuk menabung di bank, ada syarat jumlah minimum setoran pertama. Setelah itu, ada syarat jumlah minimum uang setoran tabungan. Hal ini menyulitkan masyarakat kalangan bawah untuk menabung di bank, “ papar Irawan saat ditemui Purnawan dan Lusiana di kediamannya di kawasan Sariharjo, Ngaglik, Sleman-DIY.
Untuk itulah dia membuat produk tabungan bagi lapisan masyarakat bawah. Tabungan ini tidak mensyaratkan jumlah minimum setoran. “Berapa pun jumlah uang yang disetor, kami terima. Bahkan hanya setor Rp. 500,- pun tetap diterima,” jelasnya. Tabungan ini merupakan salah satu produk dari BPR Ukabima (Usaha Karya Mandiri).
Ukabima didirikan pada tahun 1996 dengan visi untuk pemberdayaan masyarakat miskin, khususnya perempuan di daerah pedesaan, supaya mereka mampu mengatur kehidupan mereka sendiri dan meningkatkan standard hidup mereka dengan investasi ekonomi produktif. Ukabima sendiri merupakan warisan dari program keuangan mikro yang dikelola oleh Catholic Relief Services (CRS) Indonesia. Saat ini, ada lima pemegang saham Ukabima yang mewakili berbagai komunitas di Indonesia. Karena tujuan awalnya adalah pemberian kredit, maka Ukabima harus memiliki badan hukum. Karena itu, dibentuklah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di bawah manajemen perseroan terbatas (PT). Saat ini ada delapan BPR yang menjadi bawahan dari Ukabima di antaranya: Pangkal Pinang, Palembang, Batam, Cilacap, Klaten, Gunung Kidul, Bali dan Pontianak. “Jambi dan Bandung akan segera menyusul setelah izin didapatkan” ungkap alumni Fakultas MIPA UGM ini.
Tjandra Irawan melihat bahwa masyarakat menjadi miskin bukan karena mereka tidak punya uang. “Coba lihat, ketika mereka akan mengadakan hajatan atau mendaftarkan anak ke sekolah baru, mereka harus mengeluarkan uang yang cukup besar. Ternyata mereka mampu memperoleh uang itu. Itu artinya mereka sebenarnya memiliki kemampuan keuangan sebesar itu. Jadi masalahnya adalah mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengelola keuangan,” kata Irawan dengan bersemangat.
Dengan produk tabungan ini, Irawan mendidik masyarakat untuk mengelola keuangan. Untuk itu, Ukabima membuat tabungan rencana. “Tabungan ini mengajak masyarakat untuk membuat perencanaan keuangan. Misalnya, mereka membuat rencana tabungan hari raya, maka beberapa bulan sebelumnya mereka mulai menabung. Tabungan ini akan diambil menjelang hari raya. Nasabah sendiri yang menentukan target tabungan dan jumlah setoran, Dia bisa memilih setoran harian, mingguan atau bulanan. Selanjutnya, petugas kami akan mendatangi nasabah untuk menarik setoran tabungan itu,” papar Irawan.
Menurut Irawan, orang harus bertanggung jawab atas hidupnya. Karena itu, seseorang perlu punya rencana hidup ke depan agar sejahtera. ”Biasanya orang jadi berantakan akibat tidak punya rencana dalam hidupnya,” sebutnya.
Untuk itu, setiap orang harus punya uang cadangan darurat. Konsep ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sudah lama masyarakat memiliki cadangan darurat dalam bentuk sapi, emas atau lumbung padi.  Jika ada kebutuhan yang membutuhkan dana besar, maka cadangan darurat ini dijual.  Atas dasar inilah ia mendorong wong cilik seperti petani, pedagang kecil (bakul, pedagang kaki lima atau PKL) untuk menabung secara terencana.
“Tabungan Rencana” ini membalik paradigma bahwa menabung itu baru bisa dilakukan setelah ada sisa pengeluaran dari pengeluaran.  
“Menabung adalah bagian dari pengeluaran wajib setiap bulan. Itu kalau mau bertanggung jawab atas hidup kita,” ujar Irawan. Ia meyakini, sekecil apa pun penghasilan seseorang, dia pasti mampu menyisihkan sedikit penghasilannya untuk ditabung. Keyakinannya itu terbukti. Jumlah setoran yang dikumpulkan oleh kolektor dari petani, bakul pasar dan pedagang kaki lima cukup fantastis.
Dia mencontohkan pernah menyarankan para bakul dan PKL di suatu pasar pagi untuk menyisihkan uang Rp 1.000 per hari di koperasi. Setelah simpanan mencapai Rp 1 juta, mereka terkaget-kaget. Tak pernah terbayangkan sebelumnya mereka akan mampu memiliki uang sampai Rp 1.000.000. Contoh itu menunjukkan bahwa pada dasarnya rakyat kecil seperti pedagang kaki lima dan pemilik usaha mikro dan kecil di pedesaan mau dan mampu menabung.

”Masyarakat kita terbukti suka menabung,” tegasnya. Masalahnya, mereka membutuhkan orang yang bersedia menarik setoran tabungan setiap hari dalam jumlah berapa pun. Untuk itu, mereka tidak keberatan jika harus membayar uang jasa. “Besarnya uang jasa itu bervariasi. Misalnya, jika uang jasanya 10 persen, maka ketika dia menabung Rp. 1.000,’- maka dia memberikan Rp. 1.100,- Uang sebesar Rp. 100,- adalah jasa untuk petugasnya,” ucap bapak dua anak yang bernama asli Tjan Jeek Djiang ini. Meskipun tanpa bunga dan harus membayar administrasi, ternyata produk tabungan ini ditanggapi masyarakat secara antusias.
Sebagai penghargaan kepada nasabah, BPR Ukabima memberikan bonus perlindungan asuransi. Dengan menggandeng perusahaan asuransi, Ukbima memberi layanan asuransi jiwa bagi nasabah jika saldo mencapai jumlah tertentu. “Misalnya saldonya telah mencapai Rp. 300.000, maka secara otomatis nasabah akan mendapat asuransi sebesar Rp.500.000 selama 3 bulan ke depan. Mereka tidak perlu membayar premi asurans lagi, “papar pria kelahiran Pakualaman ini.
Dari kondisi ini, Irawan melihat bahwa masyarakat lapisan bawah sebenarnya sangat membutuhkan layanan perbankan. Kebutuhan itu sangat besar, sehingga sekalipun semua perbankan yang ada sekarang ini menggarap bidang ini tetap saja masih ada calon nasabah yang belum terlayani. “Hanya saja perlu diperhatikan bahwa produk perbankan itu harus memahami kebutuhan mereka,” jelasnya.
Di sinilah peran BPR dibutuhkan sebagai lembaga keuangan mikro. Ukabima dalam hal ini telah memulainya dengan memberikan kredit mikro multiguna. Pinjaman yang diberikan kepada masyarakat kecil tidak didasarkan pada prospek usahanya, tetapi hanya berdasar cash flow. “Nasabah tidak harus membuat proposal untuk mendapatkan hutang dari Ukabima. Mengapa? Karena pada dasarnya kita tidak bisa mengecek apakah uang tersebut benar-benar digunakan untuk mengembangkan usaha. Mungkin saja dia memakai juga untuk keperluan lain. Tapi kami tidak mempermasalahkan hal tersebut karena pinjaman yang dilakukannya adalah kredit kecil” ungkap Irawan. Untuk agunan kredit, sistem yang diterapkan BPR Ukabima sangat ringan. Apa saja yang bisa diagunkan nasabah untuk mengajukan kreditnya – perabotan rumahtangga, perhiasan, dan sebagainya – akan diterima.
Namun bagaimana dengan kemungkinan kredit macet? Meski memberi kredit dengan syarat ringan, bukan berarti tidak profesional. “Kami memberikan kredit setelah melihat riwayat tabungan si nasabah” jelas Irawan. Nasabah yang dipercaya mendapat kredit adalah nasabah yang bisa mempertanggungjawabkan tujuan peminjamannya. “Kalau nasabah tersebut tertib membayar, maka jumlah cicilannya akan kami kurangi” tambah Irawan lagi.
Apa yang dilakukan Irawan selama ini merupakan wujud pemenuhan janjinya meneruskan karya Almarhum Pastor J.M. Melelchers SJ. Mantan gurunya itu meyakini bahwa uang bisa menjadi sarana pendidikan, juga bisa menjadi sarana untuk pelayanan. Biasanya orang sulit diajak bicara tentang Tuhan, namun lebih gampang diajak omong soal duit. ”Romo Melchers melihat uang sudah merasuki kehidupan manusia secara mendalam,” katanya.


Atas dasar ini Irawan mencoba menerapkan penggunaan uang secara lebih manusiawi. Dengan demikian, manusia bisa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, merencanakan hidupnya dengan menjadi anggota koperasi agar hidupnya bisa lebih sejahtera.
Melalui aktivitasnya di bidang keuangan mikro dan koperasi, Tjandra Irawan telah melakukan pelayanan. “Menurut saya, setiap usaha harus sosial. Menghasilkan uang bukan tujuan utama kami. Kalau hanya mengejar untung itu namanya serakah. Cita-cita Ukabima adalah agar lembaga-lembaga perbankan bisa bekerjasama menciptakan lembaga perbankan yang benar dan dipercaya masyarakat. Kita harus bisa lebih meringankan beban masyarakat daripada usaha-usaha lain” tutup Chandra untuk wawancaranya. 

Conrad Nicholson Hilton: Impian Besar dari Seorang Pekerja Keras dan Pendoa Tekun





Tak pernah ada kesuksesan yang tiba-tiba turun dari langit. Begitu juga yang terjadi pada The Hilton International Company. Ia tidak tiba-tiba menjelma menjadi salah satu jaringan hotel terbesar di dunia. Ada sebuah perjuangan tak kenal lelah serta iman teguh tak tergoyahkan yang dimiliki oleh Conrad Nicholson Hilton, sang pendiri sekaligus pemiliknya.
Pekerja Keras
Kerja keras sepertinya sudah mendarah daging pada keluarga Hilton. Sang ayah, A.H. Hilton adalah imigran asal Norwegia yang  tekun bekerja mengembangkan toko serba ada miliknya untuk menghidupi keluarga. Hilton yang lahir  25 Desember 1887 di San Antonio, sebuah kota kecil di New Mexico sejak muda sudah dididik ayahnya menjadi seorang pekerja keras. Ia ikut membantu ayahnya mengelola toko. Selain membuka toko, sang ayah juga membuka rumah mereka untuk penginapan para salesman dari luar kota. Inilah awal Hilton bersentuhan dengan usaha penginapan.
Sang ayah tak hanya seorang pekerja keras tetapi juga seorang pendoa yang tekun. Hilton muda mewarisi keduanya. Didikan Katolik tertanam kuat dalam dirinya. Sebuah warisan sekaligus bekal yang amat berharga dalam hidupnya kelak. Pada usia 23, setelah 11 tahun bekerja membantu sang ayah, Hilton mulai gelisah. Ia tidak ingin terus menerus menjadi bayangan dari ayahnya. Ia ingin mengejar impiannya sendiri.
Pemimpi Besar dan Pendoa Tekun
Impian baru mulai ia ciptakan. Setelah ayahnya meninggal pada 1918, Hilton mengawali langkahnya mewujudkan mimpi itu. Ketika ayahnya meninggal, Hilton tengah bertugas di Perancis sebagai tentara dalam Perang Dunia I. Ia berdoa dan meminta hikmat dari Tuhan. Ia lalu membeli Hotel Mobley yang mempunyai 40 kamar di Cisco, Texas. Inilah yang menjadi pijakan awal bagi kerajaan bisnis hotelnya yang mendunia.
Hilton mengembangkan bisnis hotelnya melalui tiga tahap: pertama dengan menyewa dan merenovasi hotel tua, kedua mendirikan hotel baru di atas tanah yang disewa, terutama di Texas, dan ketiga membeli hotel dengan harga murah. Ketiga langkah ini terbukti berhasil membawa bisnis hotelnya berkembang menjadi salah satu jaringan bisnis hotel terbesar di dunia.
Keyakinan Hilton pada ketiga langkah itu seperti pula keyakinannya pada Trinitas, satu hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya. Hubungan yang mendalam dengan Tuhan merasuk kuat dalam kehidupan pribadi dan juga bisnisnya. Ini yang membuat Hilton mampu melewati masa-masa sulitnya.
Bisnis Hilton tidak luput dari krisis keuangan yang melanda seluruh dunia pada masa itu. Ia nyaris bangkrut. Tak hanya itu, tahun 1934, pernikahan pertamanya dengan Maria Adelaide Baron yang telah dibangun selama sembilan tahun juga hancur. Pernikahan ini menghasilkan  tiga putra, Conrad Nicholson, Jr., William Baron dan Eric Michael. Dari garis keturunan inilah lahir sosialita Paris Hilton dan Nicky Hilton.  
Kegagalan yang Tak Menghancurkan
Ya, bagaimana pun Hilton bukanlah manusia yang sempurna. Ia sukses membangun kerajaan bisnis hotelnya namun tidak dalam membina keluarga. Setelah perceraiannya dengan Maria, tahun 1942, ia menikahi aktris Hungaria Zsa Zsa Gabor dan memiliki satu putri, Francesca. Pernikahan ini hanya bertahan tiga tahun saja. Beberapa tahun kemudian, Hilton kembali menikah dengan Mary Frances Kelly dan lagi-lagi berakhir dengan perceraian. Kegagalannya dalam membangun keluarga ini membuat Hilton dilarang mengikuti sakramen dalam gereja Katholik.
Hilton mengakui kegagalannya dalam membangun keluarga namun itu tidak membuatnya mundur. Ia terus tekun bekerja dan berdoa dalam mengejar impian besarnya. Jaringan bisnis hotelnya tersebar ke banyak negara, termasuk Indonesia. “Pria sukses harus terus maju apa pun yang terjadi dalam kehidupannya. Mereka mungkin saja sudah membuat kesalahan tetapi mereka tidak berhenti,” ujarnya.
Berbagi Dengan Sesama
Sebagai bentuk rasa cinta pada Tuhan, Hilton tidak hanya giat menambah pundi-pundinya ia juga bergerak membantu sesama manusia yang kurang beruntung. Melalui The Conrad N. Hilton Foundation yang didirikan tahun 1944, Hilton menyediakan dana untuk organisasi nirlaba yang berfokus pada pengentasan kemiskinan, utamanya para  tunawisma dan orang-orang miskin di seluruh dunia. Ia juga mendukung penuh kegiatan para suster Katolik di berbagai belahan dunia. Hilton memang menaruh perhatian besar pada suster Katolik karena mereka berperan penting dan berpengaruh besar dalam kehidupan Hilton.
Menjelang akhir hidupnya, Hilton meninggalkan hampir seluruh kekayaannya pada yayasan. Ia menulis sebuah pernyataan pada surat wasiatnya,”Ada sebuah hukum alam, hukum ilahi, yang mewajibkan Anda dan saya untuk meringankan penderitaan orang miskin. " Hilton meninggal pada usia 91 di Santa Monica, California. Ia meninggalkan sebuah warisan yang sangat berharga bagi dunia, prestasi dalam bisnis jaringan hotelnya dan juga pekerjaan amal untuk orang miskin. Kisahnya hidupnya telah ia tulis dalam sebuah buku, Inspirasi dari Pemilik Penginapan. Ia juga menulis sebuah puisi, Amerika Berlutut yang pertama kali diterbitkan tahun 1952. 

Apakah Anda Siap Menentang Arus?


Oleh: Tony Silitonga
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (Roma 12:2)

Dua orang mahasiswa di Moorhead, Minnesota, membuat lukisan pada dinding luar ruang asrama mereka. Menurut berita di USA Today, lukisan mereka itu menunjukkan sekelompok ikan yang berenang searah kecuali satu ekor ikan yang menuju ke arah yang berlawanan.

Ikan yang satu itu dimaksudkan sebagai simbol kuno untuk Kristus. Pada lukisan itu tertulis “Berjalan melawan arus”. Melihat lukisan itu, pejabat universitas berpendapat bahwa lukisan tersebut dapat menyinggung perasaan orang-orang nonkristiani. Ia lalu memerintahkan para mahasiswa untuk mengecat ulang dinding itu.

Di dalam ketaatan kepada Tuan kita, kita pun harus bersedia menentang arus dari masyarakat kita. Apabila kita mengikuti Yesus, maka tujuan, nilai, dan kebiasaan kita seharusnya berbeda dari orang-orang yang bukan kristiani. Itulah keadaan pada abad pertama ketika para penyembah berhala menjadi bingung dan dianggap salah menurut gaya hidup orang-orang kristiani. Petrus menulis, “Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama- sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu” (1 Petrus 4:4).

Apabila kita berbaris menurut entakan penabuh drum yang berbeda, tentu saja langkah kita tidak akan serempak dengan aspek tertentu dalam masyarakat. Hal ini tentu saja membutuhkan keyakinan, keberanian, dan sopan santun. Tetapi dengan anugerah Allah yang memampukan, kita dapat menjadi berbeda secara efektif —Vernon Grounds

APABILA KITA BERJALAN BERSAMA TUHAN
KITA TIDAK AKAN MELANGKAH SEREMPAK DENGAN DUNIA





Humor


Humor

Siasat Wiraniaga


Di sebuah pusat perbelanjaan, seorang wiraniaga sedang memamerkan kekuatan sisir yang mustahil bisa patah. Dia memperlakukan sisir tersebut dengan kasar, untuk menunjukkan kekuatan sisir itu.

Akan tetapi tidak satu pun pengunjung yang terkesan. Akhirnya wiraniaga itu membengkokkan sisir itu dengan kuat-kuat. Tiba-tiba terdengar suara benda patah yang sangat keras. Para pengunjung akhirnya tertarik untuk melihat apa yang terjadi. Sisir tersebut patah menjadi dua! Namun wiraniaga tidak kehilangan akal. Dia menunjukkan bekas patahan itu kepada pengunjung sambil berkata,”Saudara-saudara, seperti inilah bagian dalam sisir ini.”

Humor

Salah Cetak


Pemilik pabrik mobil, Henry Ford sedang berlibur di Irlandia. Dia lalu dimintai sumbangan untuk panti asuhan yatim piatu yang baru saja dibuka. Ford lalu menyumbang dalam bentuk cek sebesar 200 poundsterling. Koran lokal memuat peristiwa ini dalam berita utama. Akan tetapi wartawan koran ini keliru menuliskan angkanya. Dia menulis bahwa Ford menyumbang sebanyak 20000 poundsterling.

Melihat kesalahan itu, pimpinanpanti asuhan minta maaf kepada Ford. "Saya berjanji segera menelepon redaksi koran agar meralat jumlah sumbangannya," katanya.

“Sudahlah, tidak perlu," jawab Ford. Dia lalu mengambil cek dan menuliskan 18000 poundsterling, sehingga sumbangan Ford memang sebesar 20000 poundsterling.

Dari: Today in the Word, 16 Desember 1995.



Humor


Humor



Pedati

Pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev, gemar sekali bercerita tentang kisah pencuri yang cerdik ini.

Ada sebuah pabrik pengolahan kayu di Leningrad yang dijaga dengan ketat oleh petugas keamanan. Pada suatu sore. Pyotr Petrovich keluar dari pabrik itu sambil membawa pedati yang sarat dengan tumpukan karung. Wajahnya terlihat mencurigakan.

“Apa yang kamu bawa Petrovich,”tanya penjaga denga muka sangar.

“Hanya serbuk gergaji, kok" jawab Petrovich dengan suara bergetar.

“Ayolah, aku kan bukan anak kemarin sore. Buat apa-apa kamu mau bersusah-susah keluar malam ini kalau cuma mengangkut serbuk gergaji," gertak penjaga. Penjaga lalu memeriksa isi karung itu. Ternyata semuanya memang hanya berisi serbuk gergaji. Karena tidak ada yang mencurigakan, akhirnya penjaga membuarkan Petrovich berlalu.

Petrovich mnelakukan ini selama seminggu. Sang penjaga sangat yakin kalau Petrovich itu menyelendupkan sesuatu keluar dari pabrik, tetapi dia tidak bisa menemukan bukti yang mencurigakan di atas pedati itu. Mereka hampir frustasi.

“Petrovich,” kata penjaga ketika memeriksa untuk kesekian kali, “Saya kenal kamu dengan baik. Saya tahu sebenarnya kamu mencuri sesuatu dari pabrik ini. Tolong katakan apa yang kamu curi dan saya janji tidak akan menangkap kamu."

“Pedati, sobat, “ kata Petrovich, “saya mencuri pedati.”

Dari: The Devil’s Gauntlet, Os Guiness


Belajar dari Etos Bangsa Cina





Judul Buku: The Chinese Ethos
Penulis: Jansen Sinamo, Eben Ezer Siadari
Penerbit: Institut Darma Mahardika
Tahun terbit : 2013
Tebal: 382 halaman
Peresensi: Sylvana Toemon 

Cina telah menunjukkan kekuatannya di Asia, bahkan di dunia. Kekuatan ekonomi dunia mulai bergeser dari barat ke timur. Lembaga-lembaga keuangan papan atas yang kolaps dan krisis di zona Euro, membuat kedudukan Cina makin kokoh secara politik dan ekonomi. Cina, yang berpuluh tahun lalu dikenal karena penduduknya yang kebanyakan miskin, berhasil mengangkat harkat bangsanya dengan mengentaskan ratusan juta penduduknya dari kemiskinan.
Kebangkitan Cina di kancah dunia saat ini tak terlepas dari reformasi Deng Xiaoping pada tahun 1978. Masa ini dibagi menjadi 2 tahap yang sangat berpengaruh pada pembangunan Cina, yaitu tahap awal dibuka untuk investasi asing, kemudian dilanjutkan dengan privatisasi besar-besaran untuk aneka industri dalam negeri. Sektor swasta berkembang pesat.
Yang membuat Cina berbeda dengan negara lain adalah tetap kuatnya peranan negara, dan terus menguat, dalam memimpin dan mengendalikan reformasi negeri itu. Negara terus menunjukkan kehadirannya dalam setiap kegiatan, sementara di negara lain, pemerintahnya justru kehilangan kendali.
Kemajuan Cina ini tak hanya berakar pada reformasi Deng Xiaoping, namun berakar jauh ke ribuan tahun silam dalam sejarah panjang Bangsa Cina. Peradaban Cina telah mempengaruhi dunia. Bahkan, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Carilah ilmu sampai ke Negeri Cina.”
Cina dengan peradabannya yang membentang sangat panjang, dikenal juga dengan tradisi revolusioner yang mewarnai perjalanan sejarahnya. Tradisi mandat langit sebagai legitimasi bagi setiap kaisar, juga diartikan sebagai sesuatu yang tidak permanen pada setiap kaisar. Artinya, penguasa bisa kehilangan kekuasaannya bila rakyat menganggap penguasa tak layak memegang mandat itu. Maka terjadilah pergantian dinasti yang memerintah Cina, yang diawali dengan revolusi.
Selain pergantian penguasa dengan revolusi, sejarah panjang Cina juga diwarnai dengan guru-guru bijaksana yang ajarannya turut mempengaruhi kehidupan bangsa Cina. Konfusius, Lao Zi dan Siddharta Gautama, masing-masing memberi pengaruhnya tersendiri. Di kemudian hari, ajaran-ajaran mereka banyak yang berasimilasi membentuk cara hidup dan etos bangsa Cina.
Jansen Sinamo, sang guru etos, yang telah menulis buku 8 Etos Kerja Profesional menerjemahkan etos bangsa Cina dalam 8 bingkai etos tersebut. Etos adalah pandangan hidup yang khas pada suatu golongan sosial atau bangsa. Namun, etos bukan hanya semangat atau keyakinan yang khas, Etos lebih dilihat pada wujud positifnya dalam bentuk perilaku individual dan komunal.
Etos kerja orang Cina ini terbawa pada semua keturunannya di seluruh dunia. Bangsa Cina tak lagi hanya berkewarganegaraan Cina. Mereka bermigrasi ke berbagai daerah, termasuk juga ke Indonesia. Anggapan bahwa bangsa Cina semuanya pedagang adalah keliru. Ini tampaknya sangat dipengaruhi oleh dunia bisnis yang menjadi lapangan kerja utama etnik Cina di Indonesia. Yang benar, bangsa Cina adalah pekerja keras. Hal ini tidak hanya terjadi pada orang kaya yang menolak pensiun dari bisnisnya, tapi juga warga paling miskin yang berjuang untuk sesuap nasi.
Melalui buku ini, kita dapat mempelajari sejarah dan budaya Cina, sekaligus juga etos hidupnya. Etos yang menjadi “rahasia” keberhasilan etnis Cina di banyak bidang, di seluruh dunia. “Rahasia” ini dijelaskan oleh penulis dengan contoh dan ilustrasi dengan bahasa yang mudah dimengerti. Buku ini juga memiliki keterkaitan yang saling melengkapi dengan buku 8 Etos Kerja Profesional yang juga ditulis oleh Jansen Sinamo. Buku ini sangat layak dibaca untuk menambah wawasan dan menjadi referensi bagi etos kita sendiri. {ST}

TIDAK APA-APA


Oleh: Pdt. Guruh JS


Merasa diri “tidak apa-apa” di satu sisi memang baik, namun jika tidak waspada bisa berakibat fatal. Seperti halnya jika kepala kita terbentur, mungkin bisa saja kita merasa tidak apa-apa. Namun kita tidak pernah menyangka bahwa akibat dari benturan itu bisa saja fatal, bukan? Demikian juga dalam dunia bisnis, kadang ada pebisnis yang berpikir “tidak apa-apa” hanya kecil dan sedikit tidak berpengaruh. Namun jika sikap ‘tidak apa-apa” itu terus dipelihara dan tetap dilakukan bisa saja mengakibatkan kehancuran.

Ayah seorang anggota jemaat GKI Kwitang,  mengalami kecelakaan motor di jalan raya Solo – Wonogiri. Dalam perjalanannya mengunjungi saudara yang merayakan Idul Fitri, sepeda motor pria berusia lebih dari 70 tahun itu tersenggol kendaraan besar. Ia terjatuh dan terluka di siku dan lutut sehingga tawaran para penolong untuk membawanya ke RS ditolak. Ia merasa tidak apa-apa. Beberapa hari kemudian terdengar kabar wafatnya sang ayah karena pendarahan otak akibat benturan keras. Ternyata, perasaan “tidak apa-apa” yang  dialaminya dalam kecelakaan itu berakibat fatal.

Dalam Yosua 7, dikisahkan  kekalahan orang Israel ketika menghadapi pasukan kota Ai – kota yang jauh lebih kecil dibandingkan Yerikho. Kekalahan tersebut  tidak terduga dan (mungkin juga) memalukan, mengingat beberapa saat sebelumnya Israel dengan pertolongan Tuhan mampu mengalahkan Yerikho dengan cara spektakuler (Yos. 6). Rupanya kekalahan Israel dari Ai itu disebabkan ada orang Israel yang mencuri dari barang-barang yang dikhusukan untuk Tuhan, dengan jelas Tuhan mengatakan, “Orang Israel telah berbuat dosa, mereka melanggar perjanjian-Ku yang Kuperintahkan kepada mereka, mereka mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu, mereka mencurinya, mereka menyembunyikannya, dan mereka menaruhnya di antara barang-barangnya”(Yos. 7:11).


Setelah dilakukan investigasi, didapatlah Akhan si pencuri barang-barang itu (Yos. 7:18). Alasan Akhan, “..aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali (Yos. 7:21). Kata “aku” dalam ayat tersebut menunjukkan keegosian Akhan untuk “memperkaya diri sendiri” dan“demi memuaskan dirinya sendiri”. Mungkin, Akhan berpikir apa yang diambilnya itu hanya sedikit jadi tidak apa-apa. Namun apa yang dipikirnya tidak apa-apa itu dampaknya sangat besar, yaitu kemarahan Allah yang menyebabkan kekalahan Israel saat melawan Ai dan juga kehancuran keluarganya.

Banyak orang berpikir “ah, hanya sedikit tidak apa-apa!” tanpa berpikir panjang dampak dari perbuatan yang hanya untuk mementingkan diri sendiri. Meski banyak pebisnis Kristen yang baik dan jujur, namun kita tidak dapat menutup mata bahwa ada juga pebisnis Kristen yang melakukan kecurangan. Bahkan kecurangan itu dianggap “tidak apa-apa, itu kan sudah biasa” atau “tidak apa-apa hanya sedikit”. Tindakan-tindakan yang muncul bisa bervariasi mulai dari manipulasi data, “uang tip” yang besar  dan lain-lain. Akibat yang ditimbulkan dari “kebiasaan” tidak baik ini ternyata  berpengaruh terhadap kehidupan bangsa ini secara luas dan yang pasti kemarahan Tuhan.

Akhan akhirnya mengakui perbuatannya, namun semuanya terlambat. Perbuatannya telah membawa kehancuran diri dan keluarganya bahkan menghapuskan nama-nama mereka dari daftar orang Israel. Persitiwa Akhan menjadi sebuah cermin bagi kita agar kita senantiasa menjaga kekudusan dan sikap hidup yang baik. Jangan karena kita berpikir “tidak apa-apa” lantas kita kehilangan kewaspadaan sehingga mengakibatkan kehancuran yang lebih besar lagi.

Mari kita meningkatkan kualitas hidup untuk melakukan segala hal dengan lebih baik lagi. Apa yang kita lakukan bukan sekadar demi keuntungan, kepentingan dan kepuasan diri sendiri yang sifatnya sesaat saja. Apa yang kita lakukan dapat menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita. Bukan menerima atau mendapat melainkan memberi.

Selamat berjuang untuk menjadi berkat. Tuhan memberkati. Amin.


Rensa – Jakarta Timur

Laba


Oleh: Dr. Phil Eka Darmaputra
Persoalan yang terus-menerus ditanyakan orang adalah: berapa banyak orang dapat memetik laba atau keuntungan? Apakah ada ukuran-ukran etis yang pasti untuk menentukannya?
Mitos yang umum berlaku adalah, bahwa di dalam dunia bisnis adalah wajar bila orang berusaha untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Menurut Adam Smith, ini adalah suatu naluri alamiah yang tidak dapat dan tidak perlu ditekan. Tidak dapat ditekan, oleh karena akan sia-sia belaka. Dan tidak perlu ditekan, oleh karena hukum-hukum eknomi itu sendiri yang secara alamiah akan mengaturnya.
Misalnya, hukum penawaran dan permintaan. Apabila penawaran jauh lebih besar daripada permintaan, maka dengan sendirinya harga akan turun dan keuntungan pun semakin kecil. Sebaliknya, apabila kebutuhan akan suatu barang jauh melebihi barang yang tersedia, maka dengan sendirinya harga akan melonjak dan keuntungan yang diperolah akan berlipat-ganda. Jadi, menurut teori ini, masalah keuntungan itu tidak mempunyai dimensi etis. Mekanisme yang ada di dalam ekonomi itu sendiri yang akan mengaturnya. Pengendalian tingkat laba yang dapat diperoleh dapat dilakukan secara teknis dan dengan cara yang amat sededhana. Sediakan saja barang yang dibutuhkan sebanyak-banyaknya.
Tapi benarkah masalahnya begitu sederhana? Ternyata tidak. Pada satu pihak, saya memang setuju bahwa hukum penawaran dan permintaan itu tidak dapat dihindarkan. Bagaimana pun kita berusaha  mengendalikannya, ia akan tetap berlaku. Akan tetapi adalah mitos belaka bila orang beranggapan semuanya akan berjalan secara alamiah. Sebab hukum penawaran dan permintaan itu dapat dimanipulasikan dengan mudahnya.
Adalah praktik yang umum berlaku di dalam dunia bisnis, bila harga cenderung turun maka produsen pun akan  mengurangi produksinya. Tidak jarang dengan cara-cara yang tidak bermoral. Misalnya, kita pernah membaca di suratkabar, bagaimana sejumlah besar susu dibuang begitu saja sekadar untuk menahan laju kemerosotan harga.
Oleh karena itu, fokus perhatian dalam membahas laba bukanlah bagaimana cara mendapatkan keuntungan yang seminimal-minimalnya, dan juga dengan serta-merta menolak keuntungan yang semaksimal-maksimalnya, melainkan masalah batas-batas memperoleh keuntungan yang optimal di dalam batas yang wajar. Optimal, oleh karena sama sekali tidak realistislah menuntut orang berusaha sekeras-kerasnya dan sebaik-baiknya hanya untuk memperoleh keuntungan seminimal-minimalnya. Suatu etika yang tidak realistis tidak mungkin akan berfungsi. Ia hanya akan tinggal sebagai norma yang tidak pernah dilaksanakan di dalam praktik. Dan sebagai akibatnya, ekonomi dan bisnis pun akan berjalan menurut mekanisme sendiri tanpa nilai-nilai etis. Tapi kali ini disebabkan oleh karena kesalahan etika sendiri. Hal itu karena etika tidak memperhitungkan realitas kehidupan ekonomi yang mau diaturnya.
Masalah yang amat rumit adalah untuk menjawab pertanyaan: apakah ada batas-batas yang pasti dari keuntungan yang “wajar” itu?
Jawaban atas pertanyaan itu adalah “ada” dan “tidak ada.” Dijawab “ada” karena kita dapat mengatakan bahwa ada keuntungan yang “tidak wajar.”Tetapi juga “tidak ada” oleh karena penentuan mengenai laba dan harga itu tergantung dari begitu banyak faktor dan variabel.
Di dalam hal-hal tertentu, kita malah dapat mengatakan bahwa faktor-faktor dan variabel itu bergitu subjektifnya sehingga tidak ada ukuran untuk mengatakan, apakah harga yang ditetapkan itu wajar atau tidak wajar. Saya sebutkan saja sebagai contoh, suatu lukisan yang dihargai puluhan juta rupiah. Apa ukuran yang dapat kita pakai untuk mengatakan bahwa harga itu wajar atau tidak? Bila ukuran yang dipakai adalah biaya yang telah dikeluarkan oleh si pelukis untuk menghasilkan lukisan tersebut, maka mungkin biaya yang dikeluarkan hanya 100-200 ribu rupiah. Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan lukisan itu bisa berbulan-bulan, tetapi dapat juga hanya sehari. Masalahnya adalah bagaimana kita dapat menetukan “harga” suatu kreativitas? Suatu nilai keindahan? Belum lagi faktor tingkat popularitas pelukis dan selera pembeli.
Hal yang sama dapat kita katakan mengenai harga lelang benda antik atau berlian. Di dalam hal ini seolah-olah “kewajaran” harga sepenuhnya ditentukan oleh kesepakatan penjual dan pembeli tanpa ukuran-ukuran yang pasti dan objektif.


Martin Luther sendiri mengatakan, bahwa harga suatu barang itu ditentukan oleh begitu banyak faktor yang tidak pasti. Pada intinya, ia mengatakan bahwa harga suatu barang itu ditentukan oleh “biaya” yang telah dikeluarkan oleh si penjual ditambah dengan “keuntungan wajar” yang menjadi hak si penjual. Di dalam faktor “biaya” itu, Luther tidak hanya memperhitungkan “uang” yang telah dikeluarkan oleh si penjual untuk memperoleh barang tersebut, tetapi juga faktor tenaga, waktu dan....tingkat kesulitan. “Keuntungan yang wajar” pun sama sekali tidak pasti. Sebab selain ia ditentukan oleh faktor-faktor yang tidak dapat dinilai dengan pasti, ia juga hanya dapat dibatas oleh apa yang disebut Luther sebagai “tidak adanya keserakahan untuk hidup yang berlebihan” dari pihak di penjual.
Oleh karena semua yang tidak pasti itulah maka Luther menghendaki kekuasaan politik mengatur masalah harga ini. Pada satu pihak, harus diatur agar konsumen tidak dirugikan oleh penetapan harga yang sewenang-wenang dari pihak penjual. Dan pada pihak lain, harus diatur agar penjual dijamin untuk memperoleh keuntungan yang wajar sesuai dengan nilai barang yang bersangkutan, tingkat kesulitan, dan faktor risiko. Dengan faktor risiko, yang dimaksudkan ialah, misalnya kemungkinan rusaknya barang di tengah barang atau kemungkinan tidak terjualnya semua barang, yang tentu saja menjadi tanggungan sepenuhnya dari si penjual.
Mengingat semua ini, maka yang maksimal dapat kita katakan mengenai “Harga atau keuntungan yang wajar” adalah sebagai berikut:
1.                        Bahwa si penjual berhak untuk memperoleh keuntungan dari usahanya. Memperoleh keuntungan bukanlah suatu dosa atau suatu kejahatan. Sebaliknya, si pembeli mempunyai kewajiban untuk memberikan kompensasi bagi jasa yang telah ia terima dari penjual sehingga ia dapat memperoleh barang yang ia perlukan.
2.                        Dalam keuntungan yang “wajar” tidak saja dimaksudkan agar si penjual dapat memperoleh nafkah untuk kebutuhan-kebutuhan hidupnya (kebutuhan konsumtif) tetapi agar dia juga dapat mengembangkan usahanya lebih lanjut (kebutuhan produktif).
3.                        Yang dimaksud dengan keuntungan yang “wajar” adalah keuntungan yang “optimal” yang dapat diperoleh penjual, dengan tanpa mengeksploitasi kebutuhan pembeli. Artinya “kesempatan” pihak pembeli tidak dieksploitasi sedemikian rupa sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang berlebihan. Keuntungan yang tidak wajar ialah keuntungan yang diperoleh bukan karena jasa dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi karena memanipulasi kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, sebenarnya permasalahan kita bukanlah pada ada atau tidak adanya patokan yang pasti mengenai harga, tetapi pada keputusan etis yang harus diambil oleh si penjual secara pribadi. Ia berhak untuk hidup layak dari keuntungan itu. Ia berhak untuk memperkembangkan usahanya dari keuntungan itu. Ia berhak untuk memperoleh keuntungan yang seoptimal-optimalnya dari jasanya sebagai pemasok kebutuhan masyarakat. Tetapi yang selalu harus ia tanyakan secara pribadi iaah: Apakah keuntungan yang saya peroleh itu merugikan dan mengorbankan orang lain? Ataukah keuntungan utu diperoleh melalui suatu transaksi yang saling menguntungkan?
Jangan diharapkan ada ketentuan yang jelas di sini. Sebab mengharapkan semua diatur berdasarkan ketentuan, justru akan merugikan. Bisnis tidak akan berkembang bila segala sesuatu harus diatur dari luar. Sebab itu, pergunakanlah kebebasan itu dengan sebertanggunghawab mungkin. Sebab bila tidak, maka itulah yang akan terjadi: ada tangan-tangan dari luar yang akan mengatur dan memaksa.
Bagaimanapun, harga jual juga ditentukan oleh mekanisme pasar:perbandingan antara penawaran dan permintaan. Sekiranya pada suatu ketika permintaan jauh melebihi penawaran, maka seringkali hal ini dipakai oleh para pedagang untuk menimba laba sebanyak-banyaknya. Menurut keyakinan saya, ini adalah sesuatu yang wajar dan alamiah.
Di sini, apabila masyarakat dirugikan, maka pemerintah harus melakukan sesuatu. Tetapi tidak akan ada banyak gunanya apabila pemerintah hanya kemudian mengeluarkan perintah untuk menekan harga. Ini hanya mengakibatkan para pedagang tidak mau menjual barangnya, dan justru akan mengakibatkan penawaran semakin mengecil dibandingkan dengan permintaan.
Pemerintah dapat melakukan upaya menekan harga dengan tetap memperhitungkan mekanisme pasar. Misalnya dengan menambah suplai barang sehingga penawaran seimbang dengan permintaan.
Yang hendak saya katakan di sini adalah: Ada tuntutan-tunutan etis yang harus membatasi. Namun pembatasan itu hanya akan dapat berfungsi apabila mekanisme di dalam dunia bisnis sendiri dihormati dan diperhitungkan.
Di sinilah salah satu contoh dari apa yang telah dikemukakan berulang-ulang sebelumnya, bahwa etika tidak hanya menuntut keputusan individual, tetapi juga mengatur struktural sedemikian rupa sehingga keputusan indvidu itu dapat dilaksanakan dengan baik.

Dikutip dari buku: Etika Sederhana untuk Semua; Bisnis, Ekonomi dan Penatalayanan, ditulis oleh Dr. Phil. Eka Darmaputra, diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia

Menyulap Sampah Plastik Jadi Uang




Saat ini ada uang tercecer di sungai dan di tempat sampah tapi tidak ada yang memungutnya. Masa’ sih? Di mana itu? Perhatikan sungai-sungai dan selokan di perkotaan. Di antara sampah yang menyumbat saluran air itu banyak terdapat sampak plastik, mulai dari tas plastik, botol bekas minuman, botol minyak, botol minuman hingga plastik sisa konstruksi.  Sampah-sampah plastik itu dapat disulap menjadi uang.
Langkah pertama adalah mengumpulkan bahan bakunya. Anda bisa mengerahkan orang-orang di sekitar Anda untuk menyetor limbah plastik. Biasanya setiap 1 kg sampah plastik dihargai sekitar Rp. 6.000,- /kg. Sampah plastik yang sudah terkumpul dipilah-pilah berdasarkan jenis plastik. Ada bermacam-macam jenis plastik:
1. PET(Polyethylene) – Botol air mineral.
2. HDPE(High Density Polyethylene)-botol oli, kemasan bekas kosmetik, tas plastik.
3. PVC (Polyvinyl Chloride)- pipa, bahan-bahan konstruksi, talang air, ember.
4. LDP (Low Density Polyethylene) - tutup botol air mineral/gallon, mainan anak-anak.
5. PP (Poly Propylene)-gelas aqua, peralatan makan.
6. PS (Polystyrene)-Styrofoam.
7. HIPC (High Impact Plastik Cover)-perangkat elektronik.
Yang perlu diperhatikan, untuk satu kemasan plastik bisa terdiri dari bermacam-macam plastik. Contohnya untuk wadah minuman air mineral: Botolnya berjenis PET, labelnya berjenis PP, tutupnya berjenis HDPE, dan segelnya berjenis PVC. Untuk itu, kita harus memisah-misahkannya menurut jenisnya. Untuk pengolahan limbah plastik, saya mengusulkan agar Anda memulainya dengan mengolah botol dan gelas bekas air mineral dulu. Setelah mahir, maka Anda bisa melanjutkan dengan jenis-jenis plastik yang lain.


Platik yang sudah dipilih dan dipilah ini kemudian dibersihkan. Misalnya membersihkan dari kotoran, membuang mereknya, dan memangkas bagian-bagian yang keras seperti tutup botol, bibir gelas plastik, bagian dasar dll). Untuk itu pekerja perlu diberi pelatihan lebih dahulu.

Plastik yang sudah bersih ini kemudian digelontorkan ke mesin pencacah (crusher machine). Hasilnya adalah potongan-potongan plastik seukuran sisik ikan (Kira-kira sebesar kuku tangan manusia dewasa). Sisik plastik ini lalu dicuci lagi dengan biang deterjen melalui bak-bak pencucian. Setelah kering, “sisik-sisik” ikan ini dikemas dan dikirim untuk didaur ulang. Harga jual sisik iklan plastik ini mencapai Rp.10.000,-/kg untuk plastik dari gelas dan untuk bahan dari botol dihargai Rp.8.000,- /kg. Catatan: harga ini berlaku saat tulisan ini dibuat. Harganya bisa berubah sewaktu-waktu


Biaya Produksi
Transport                                                                                                             Rp.1.000/kg.
Ongkos produksi diperkirakan                                                                            Rp.1.000/kg.
Bahan baku gelas bekas (sudah bersih)                                                               Rp.6.000 /kg,
Laba kotor diperkirakan untuk bahan baku gelas plastik bekas                        Rp.2.000/kg.

Investasi yang diperlukan:
1.Sebidang tanah +/- 1.000m2 = Rp.1.000.000.000,-
2.Bangunan:Workshop (sederhana)+Kantor+gudang 500 m2x Rp.1.000.000,-= Rp.  500.000.000,-
3.Mesin Crusher : Kapasitas 800 kg/jam harganya USD 2.750 x Rp.9.500,-= Rp.26.125.000,-
4.Bak-bak Fiber: 4 buah x 500 liter = Rp.10.000.000,-
5.Pompa-pompa = Rp.  1.000.000,
5.Mesin pengering (dryer) =  Rp. 60.000.000,-
6.Truk pengangkut = Rp.100.000.000,-
Total: Rp. 1. 697.125.000,-

Biaya Bahan Baku
Untuk bahan baku, Anda harus menyediakan dana lukuid untuk membeli bahan baku kira-kira selama seminggu sebelum tagihan Anda dibayar.
Jika mesin Anda berkapasitas 500kg/jam maka dalam satu hari kerja (8 jam) Anda membutuhkan bahan baku sebesar  500 kg x 8 jam x Rp.6.000,- =-=Rp.24.000.000,-hari. Untuk seminggu, Anda perlu menyediakan modal sebesar Rp.24.000.000.- x 6 hari =Rp.144.000.000,-
Jadi biaya investasi total yang diperlukan adalah Rp.1.841.125.000,-






(Daniel Santoso)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Majalah Gema Kreasi Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger